Selasa, 30 April 2013

Kepariwisataan #3

berikanlah analisis anda mengapa pariwisata memerlukan organisasi kepariwisataan ?

 Karena dengan berlaku terorganisasi, kita dapat mengerjakan sesuatu dengan baik. Dengan berlaku efisien kita dibantu untuk memanfaatkan waktu dan sumber daya sebaik-baiknya. Sebagai gambaran, Anda bisa dengan mudah memberi makan satu orang, tetapi untuk memberi makan ribuan atau jutaan orang, Anda membutuhkan sekelompok orang yang diorganisasi dengan baik.

Kepariwisataan #2

 Sarana dan prasarana pariwisata seperti apa yang menurut anda ideal dan memuaskan ?

*Sarana Pariwisata
 
- sarana transportasi umum yang lebih mudah terjangkau tersedia, sehingga arus pariwisata pun terbuka
 - Akomodasi seperti jasa pelayanan dan hiburan
- Souvenir atau cinderamata untuk meningkatkan penghasilan bagi masyarakat yang berimajinasi khususnya dalam bidang seni

*Prasarana Pariwisata

- Prasarana perhubungan  seperti Jalan Raya, Jembatan, Terminal, Stasiun Dan lain - lain
- Instalasi Pembangkit listrik dan Air Bersih
- Sistem Perbankan Moneter
- Sistem Telekomunikasi
- Kemanan   

Senin, 15 April 2013

Petra—Kota yang Dipahat pada Batu



BANYAK kota kuno terletak di tepi sungai-sungai penting, yang airnya berlimpah untuk menunjang dan melindungi kota itu. Namun, ada sebuah kota di perbatasan barat laut Gurun Arab yang menonjol justru karena kekurangan air. Kota itu bernama Petra.
Di gurun yang berbatasan dengan Laut Tengah, rute kafilah yang menghubungkan kota-kota yang jauh mirip dengan jalan raya modern yang melintasi benua-benua. Namun, seperti halnya mobil membutuhkan bahan bakar, demikian pula, unta—meskipun terkenal tangguh—harus berhenti untuk minum. Dua ribu tahun yang lalu, Petra merupakan salah satu kota perhentian di Timur Tengah.
Petra terletak di persimpangan dua jalur perdagangan penting. Rute pertama menghubungkan Laut Merah dengan Damaskus dan rute yang satu lagi menghubungkan Teluk Persia dengan Gaza, di pesisir Laut Tengah. Rombongan kafilah dari Teluk, yang mengangkut barang berharga berupa rempah-rempah, harus berani menghadapi keganasan Gurun Arab selama berminggu-minggu sebelum akhirnya sampai di Siq, ngarai sempit yang sejuk dan merupakan jalan masuk ke Petra. Di Petra, seseorang dapat memperoleh makanan, penginapan, dan yang terpenting, air sejuk yang menyegarkan.
Tentu saja, warga kota Petra tidak memberikan segala kemudahan ini dengan gratis. Sejarawan Roma, Pliny, melaporkan bahwa orang-orang harus menyerahkan hadiah kepada para prajurit, penjaga gerbang, imam, dan pelayan raja—belum termasuk biaya untuk makanan binatang dan penginapan. Namun, karena rempah-rempah dan wewangian dijual dengan harga sangat mahal di kota-kota makmur Eropa, maka tetap saja ada kafilah yang singgah dan memperkaya Petra.
Melestarikan Air dan Menaklukkan Batu
Setiap tahun, curah hujan di Petra hanya sekitar 15 sentimeter, dan di sana tidak ada sungai sama sekali. Bagaimana penduduk Petra memperoleh air yang berharga untuk menunjang kota itu? Mereka memahat kanal, waduk, dan kolam pada batu cadas. Pada waktunya, hampir setiap tetes hujan yang jatuh di sekitar Petra dikumpulkan dan dilestarikan. Keahlian mengelola pengairan tersebut memungkinkan penduduk Petra menanam palawija, beternak unta, dan membangun pusat bisnis yang menghasilkan banyak keuntungan dari para pedagang kemenyan dan mur. Bahkan sampai sekarang, kanal batu yang berliku-liku di sepanjang ngarai Siq masih dialiri air.
Selain ahli dalam pengairan, penduduk Petra juga mahir membangun dengan batu. Nama Petra sendiri, yang berarti ”Kumpulan Batu”, mengingatkan orang pada batu. Dan, Petra memang kota yang terbuat dari batu—tidak seperti kota mana pun pada zaman Romawi. Orang Nabatea, yang membangun kota ini, dengan tekun memahat rumah, makam, dan kuil mereka pada batu cadas. Pegunungan batu pasir merah yang menjadi lokasi Petra benar-benar cocok untuk maksud ini, dan pada abad pertama Masehi, kota yang terkenal ini telah berdiri di tengah gurun.
Dari Perdagangan Menjadi Pariwisata
Dua milenium yang lalu, perdagangan membuat Petra makmur. Namun, ketika Roma menemukan rute ke Timur lewat laut, perdagangan rempah lewat darat bangkrut dan lambat laun Petra ditinggalkan. Tetapi, karya para pemahat batu tidak lenyap. Sekarang, kira-kira setengah juta wisatawan mengunjungi Yordania setiap tahun untuk menyaksikan kota Petra yang berwarna merah mawar, yang bangunan-bangunannya masih menjadi saksi bisu kejayaan masa lalu.
Setelah para pengunjung berjalan di sepanjang ngarai Siq yang sejuk dan berliku-liku sejauh satu kilometer, tiba-tiba di balik dinding ngarai tampaklah Ruang Perbendaharaan, sebuah struktur yang mengesankan yang bagian mukanya dipahat pada tebing pejal. Salah satu bangunan abad pertama yang paling awet ini begitu mengesankan sehingga tidak mudah dilupakan. Bangunan ini dinamai demikian karena di puncaknya terdapat tempayan batu besar yang konon menyimpan emas dan batu mulia lainnya.
Seraya ngarai itu melebar, para pengunjung tiba di amfiteater alami yang sangat besar, yang dibatasi tembok dari batu pasir dengan banyak gua. Tapi, yang paling menarik adalah makam-makamnya—dipahat pada tebing, makam-makam itu sedemikian tingginya sehingga para pengunjung yang masuk ke bagian dalamnya yang gelap tampak kerdil. Serambi dan teaternya menjadi saksi bisu kehadiran orang Romawi di kota itu pada abad pertama dan kedua.
Orang Badui sekarang, yang adalah keturunan orang Nabatea, menawarkan jasa mengendarai unta bagi wisatawan yang tidak mau berjalan kaki. Mereka juga menjual cendera mata, atau memberi minum kawanan kambing mereka di mata air Petra, yang menyegarkan dahaga manusia dan binatang. Jalan raya berlapis batu, peninggalan masa lalu Petra, masih berfungsi sampai sekarang meskipun hanya dilalui unta, kuda, dan keledai. Maka, sekarang kota tersebut menghadirkan suasana yang sama seperti masa lalu, manakala unta dan Petra masih menjadi rajanya di gurun.
Sambil menikmati terbenamnya matahari, yang membuat dinding muka bangunan pejal Petra semakin merah, pengunjung yang bijak dapat merenungkan hikmah dari kota itu. Tidak diragukan, kota ini membuktikan kecerdikan manusia untuk melestarikan sumber-sumber yang terbatas, bahkan di lingkungan yang sedemikian tidak bersahabat. Namun, ini juga suatu pengingat bahwa kemakmuran materi dapat dengan sangat cepat ’terbang ke langit’.—Amsal 23:4, 5.

Source : Wachtower Library 2011
                                                                                                                                 

Keindahan yang Tersembunyi di Balik Kegelapan



OLEH PENULIS SEDARLAH! DI SLOVENIA
SAMBIL menggenggam lentera kecil, Luka ÄŚeÄŤ perlahan-lahan berjalan menembus kegelapan pekat di bawah tanah. Jauh di bawah permukaan bumi, setelah bersusah payah merangkak menaiki sebuah batu karang, ia menemukan pemandangan yang luar biasa. Suatu dunia yang gemerlapan dan berkilauan terbentang di depannya. Apa yang telah ia temukan? Sebuah lorong baru dari Gua Postojna di Slovenia.
Temuan pada musim semi tahun 1818 ini menandai awal sebuah industri pariwisata yang kini naik daun. Temuan itu juga membuka jalan untuk semakin mendalami speleologi, yakni ”penelitian atau penjelajahan gua”. Untuk melihat lebih dekat jaringan gua yang mengagumkan ini, ikutlah bersama kami mengunjungi Postojna, sebuah kota kecil di bagian barat Slovenia.
Sebuah Kawasan yang Berlimpah Gua
Dengan lorong dan ruang sepanjang lebih dari 20 kilometer, jaringan gua Postojna termasuk yang paling besar di Eropa. Gua-gua itu terletak di kawasan Kras, atau Karst, di Slovenia, yakni dataran tinggi batu kapur yang membentang sekitar 50 kilometer ke pedalaman dari Laut Adriatik, antara Pegunungan Alpen Julian dan Dinaric. Gua-gua di Postojna termasuk di antara ribuan gua di kawasan ini.
Dewasa ini, kata ”karst” memiliki makna yang luas. Istilah itu digunakan oleh para geolog di seluruh dunia untuk melukiskan medan yang mirip dengan medan di kawasan Kras. Karst terdapat di banyak bagian dunia, termasuk Amerika Tengah, Australia, Cina, Indocina, dan Rusia, serta Karibia dan Mediterania. Kawasan semacam itu dicirikan dengan tanah tandus berbatu karang yang memiliki gua, luweng, dan sungai serta danau bawah tanah akibat proses pengikisan.
Karena sebagian besar kawasan di Slovenia adalah kawasan karst, negeri ini memiliki banyak sekali gua dan struktur bawah tanah lainnya. Gua Postojna dapat disejajarkan dengan gua-gua karst terkenal seperti Gua Mammoth di Kentucky, AS, dan Gua Suling Buluh di Kuei-lin, Cina.
Mengintip Isi Gua
Uraian pertama tentang Gua Postojna berasal dari abad ke-17, sewaktu pakar asal Slovenia, Janez Vajkard Valvasor, menulis tentangnya dalam buku The Glory of the Duchy of Carniola. Valvasor melukiskan bahwa gua-gua di daerah itu memiliki ”tiang-tiang yang aneh bentuknya”. Ia menyamakannya dengan ”segala macam kutu, ular, dan binatang lain . . . atau berbagai bentuk monster, wajah-wajah menyeramkan, hantu, dan semacamnya”. Ia menambahkan, ”Selain itu, rasa ngeri dan takut semakin mencekam karena banyaknya lorong, lubang, dan jurang yang dalam di segala sisi.” Tidak heran bahwa setelah membaca uraian tersebut, tidak banyak orang yang punya nyali untuk masuk jauh-jauh ke dalam kegelapan gua yang mencekam itu!
Namun, belakangan Gua Postojna semakin populer. Ini khususnya terjadi setelah temuan ÄŚeÄŤ pada tahun 1818. Pada tahun berikutnya, gua-gua itu dibuka untuk umum. Tetapi, baru setelah rel kereta api ditambahkan pada tahun 1872 dan pencahayaan listrik pada tahun 1884, banyak orang bisa melihat keajaiban alam ini dengan mata mereka sendiri. Apa yang mereka lihat?
Sekarang, jaringan gua Postojna terkenal dengan lorong-lorongnya yang indah. Karena warna-warna stalaktit serta stalagmitnya yang cerah dan bentuknya yang ganjil, lorong-lorong gua ini tampak bagaikan permata. Ada yang berkilau seolah-olah ditaburi intan, dan ada yang memancarkan cahaya kuning kemerah-merahan dan kecokelatan. Goresan kata-kata pada dinding gua menyingkapkan bahwa para pengunjung pada abad yang lampau juga menikmati keindahan yang langka dari gua-gua itu.
Spesies-Spesies Baru yang Ditemukan
Penjelajahan gua-gua yang sangat luas ini tidak hanya menyingkapkan susunan geologis yang baru dan ganjil, tetapi juga bentuk kehidupan yang belum dikenal. Hingga hari ini, lebih dari sepuluh spesies baru telah ditemukan dalam jaringan gua Postojna.
ÄŚeÄŤ menemukan salah satu spesies baru pada tahun 1831, yang sangat menggembirakan para speleolog di seputar dunia. ÄŚeÄŤ menemukan seekor kumbang gua yang unik, yang dinamakan Leptodirus hohenwarti, artinya ”si leher ramping”. Seperti tersirat dari namanya, kumbang ini punya leher yang kurus. Ia juga memiliki kepala yang mungil, perut yang menggembung, dan sungut serta kaki yang luar biasa panjang. Sayang sekali, kumbang pertama itu rusak tanpa disengaja, sehingga penelitian yang lebih mendalam baru bisa dilakukan saat kumbang kedua ditemukan 14 tahun kemudian.
Makhluk aneh lainnya di daerah ini adalah olm, salamander buta. Pada tahun 1689, Valvasor menyebutnya ’anak naga’. Amfibi mungil ini telah menjadi bahan sejumlah penelitian ilmiah.
Gua-Gua Tetangga
Gua-gua Postojna hanya salah satu dari banyak jaringan gua di kawasan itu. Gua Ĺ kocjan yang berdekatan, yang telah tercantum dalam Daftar Peninggalan Dunia UNESCO sejak tahun 1986, memiliki pesona khusus. Para pengunjung jaringan gua ini pasti terpukau oleh ukuran yang luar biasa dari gua dan ngarainya, yang konon paling besar di Eropa. Misalnya, sebuah bagian dalam jaringan gua itu panjangnya 300 meter, lebarnya 100 meter, dan tingginya 110 meter!
Di depan mulut Gua Predjama terdapat sebuah benteng besar, bekas tempat kediaman ksatria legendaris Erazem Jamski. Konon, kastil itu telah mengusir para penyerbu selama berabad-abad. Persediaan makanan dan lain-lain dapat diantar melalui lorong bawah tanah rahasia yang terhubung dengan gua di bawah kastil itu. Erazem dilaporkan memanas-manasi para penyerang dengan melemparkan buah ceri segar atau daging panggang untuk membuktikan bahwa ia tidak kekurangan apa pun meski terkurung di balik dinding kastilnya. Entah cerita itu benar entah tidak, lorong rahasia itu benar-benar ada.
Para penjelajah dunia gua yang memukau di kawasan karst ini bisa menemukan banyak kejutan yang menyenangkan. Pemahat kelas dunia Henry Moore menggambarkan Gua Postojna, ”Inilah pahatan terbaik karya Alam yang pernah saya saksikan.” Jika Anda mendapat kesempatan untuk mengunjunginya, Anda pasti sependapat dengannya.
[Kotak/Gambar di hlm. 24]
Si ”Ikan Manusia”
  Di tempat asalnya, Proteus anguinus dikenal sebagai ikan manusia karena warna kulitnya yang janggal, yang menurut beberapa orang mirip kulit manusia. Hewan amfibi bertulang belakang ini hanya terdapat di perairan bawah tanah di kawasan karst Italia bagian timur laut, Slovenia, dan daerah selatannya. Kulitnya yang pucat dan matanya yang lisut bukan pertanda cacat, karena ia hidup dalam kegelapan yang pekat sejak masih telur hingga ia mati. Sungguh menakjubkan, ada yang dilaporkan hidup hingga usia 100 tahun, dan ikan-ikan ini bisa bertahan selama beberapa tahun tanpa makan.

 Source : Wachtower Library 2011

Jembatan Unik yang Mengubah Sebuah Pulau



Oleh penulis Sedarlah! di Kanada
DI Teluk Sungai St. Lawrence di Pesisir Atlantik Kanada terdapat provinsi terkecil di Kanada, yakni Pulau Prince Edward yang asri dan berbentuk sabit. Jacques Cartier, seorang penjelajah asal Prancis, melukiskannya sebagai ”pulau terindah yang tiada duanya”. Pulau Prince Edward, yang diberi nama kesayangan ”the Island” oleh penduduknya yang berjumlah lebih dari 130.000 jiwa, terkenal karena pantainya yang bersih, kentang yang ditanam di tanah merahnya yang subur, dan lobster yang ditangkap di lepas pantainya. Lebih dari seabad setelah pulau itu bergabung dengan Negara Dominion Kanada pada tahun 1873, didirikanlah sebuah penghubung yang tetap ke daratan utama—Jembatan Konfederasi yang unik. Apa pengaruh jembatan ini terhadap pulau itu dan penduduknya?
Pulau Prince Edward dipisahkan dari daratan utama oleh selat yang cukup kecil, yang hanya selebar kira-kira 13 kilometer pada bagiannya yang tersempit dan terdangkal. Namun, Selat Northumberland yang panjangnya 300 kilometer ini turut memberi penduduk pulau itu rasa bangga akan keunikan dari sejarah, warisan agraris, dan ketenangan pulau mereka yang seperti taman.
Pada bulan November 1996, keadaan terisolasi ini berakhir sewaktu dek beton terakhir dari Jembatan Konfederasi dipasang pada tempatnya. Jembatan itu resmi dibuka pada tanggal 13 Mei 1997. Sejak itu, penduduk pulau dan pengunjung dapat menyeberangi selat dengan mobil dalam waktu sekitar 12 menit, kapan saja sepanjang tahun.
Tetapi, apa yang membuat orang-orang tertarik mengunjungi pulau yang terisolasi ini? Bagi banyak orang, jawabannya ada pada sebuah buku yang berjudul—Anne of Green Gables! Ya, sang penulis buku yang terkenal itu, Lucy Maud Montgomery (1874-1942), berasal dari kota Cavendish, dan di sana rumahnya masih berdiri. Setiap musim panas, lebih dari 200.000 wisatawan berbondong-bondong ke sana.
Apa Keunikannya?
Di seluruh dunia, ada banyak jembatan hebat yang dianggap sebagai keajaiban arsitektur dalam dunia modern. Kalau begitu, mengapa jembatan yang satu ini layak mendapat perhatian khusus? Memang, ia bukan jembatan terpanjang di dunia, tetapi pada musim dingin, ia disebut sebagai ”jembatan terpanjang di atas perairan yang berlapis es”.
Selat Northumberland hampir selalu dipenuhi es pada musim dingin selama lima bulan, maka jembatan ini dirancang untuk mampu bertahan dalam kondisi seburuk itu. Jembatan ini terbentang dari Pulau Jourimain, New Brunswick, di daratan utama. Dari sana, jembatan ini melintasi selat itu hingga pantai berbatu pasir di sebelah barat daya Pulau Prince Edward, dekat desa kecil bernama Borden. Apakah Anda berminat untuk berkendara melintasi jalan raya sempit dengan jalur dua arah yang lebarnya 11 meter ini? Berjalan kaki dan bersepeda tidak diperbolehkan di jembatan ini, maka disediakan kendaraan untuk mengangkut pejalan kaki dan pesepeda. Bagian jembatan yang bisa dilintasi kapal berada 60 meter di atas air, kira-kira setinggi bangunan 20 tingkat. Mengapa begitu tinggi? Hal ini memungkinkan kapal antarsamudra melintasi bagian tengah selat itu.
Dibangun dengan Kesadaran akan Lingkungan
Mega proyek ini membutuhkan jaminan asuransi yang menyeluruh dan rumit serta perencanaan lingkungan guna melindungi ekosistem di sekitarnya. Hal utama yang dipedulikan adalah pengaruh jembatan ini terhadap aliran es yang melintasi selat itu di musim semi. Es yang menumpuk dapat berpengaruh besar terhadap habitat darat dan laut setempat serta terhadap industri perikanan. Bahkan tanah yang dikeruk dari dasar laut dipindahkan ke tempat-tempat yang sudah dipilih dengan harapan bisa menciptakan habitat baru untuk lobster.
Penghalang es berbentuk kerucut dari tembaga yang dipasang setinggi permukaan air pada tiap-tiap pilar jembatan memiliki peran yang penting. (Lihat diagram, halaman 18.) Apa itu? Seraya es yang mengapung menabrak kerucut itu, es itu akan menumpuk-numpuk hingga terpecah karena beratnya sendiri. Es itu kemudian jatuh ke air dan dihanyutkan arus melewati sisi pilar. Untuk mengurangi penumpukan es yang hanyut melalui selat itu, jarak tiap-tiap pilar yang dipancangkan di dasar laut dibuat sejauh 250 meter.
Tantangan dalam Merakit Jembatan Itu
Potongan-potongan jembatan itu memang luar biasa besar ukurannya. Empat unit bangunan utamanya ialah (1) pilar dasar, yang dipasang di dasar selat sebagai fondasi dan muncul ke permukaan air, (2) pilar jembatan, yang dipasang pada pilar dasar, (3) penopang utama, yang ditempatkan di atas pilar jembatan, dan (4) dek untuk menghubungkan penopang-penopang utama. (Lihat diagram di atas.) Pembangunannya melibatkan lebih dari 6.000 pekerja, dan lebih dari 80 persen pengerjaannya dilakukan di darat di ”fasilitas yang sangat besar seluas 60 hektar”. Kemudian, setiap potongan dibawa dari pangkalan di darat menuju lokasi di laut, lalu dirakit di sana.
Penopang yang telah jadi panjangnya mencapai 192 meter. ’Bagaimana memindahkan benda sebesar itu?’ tanya Anda. Dengan menggunakan alat angkut. Kalau Anda melihatnya beraksi, Anda pasti akan teringat kepada seekor semut yang membawa benda yang ukurannya lebih besar daripada dirinya. Bayangkan saja, setiap penopang beratnya 7.500 ton! Karena alat angkut itu bergerak sangat lambat di sepanjang lintasan baja dengan kecepatan tiga meter per menit, ia tidak akan menang dalam balapan mana pun. Tidak heran, kedua alat angkut yang digunakan itu dijuluki si Penyu dan si Lobster!
Karena ”semut-semut” ini hanya beroperasi di darat, digunakanlah derek apung berlambung ganda yang tingginya102 meter. Seorang wartawan menggambarkannya sebagai ”benda yang jelek sekali, dengan leher yang terlalu panjang dan kaki yang sangat besar seperti monster” tetapi memiliki ”keanggunan seekor angsa”. Kapal ini, yang pada mulanya dibuat pada tahun 1990 untuk membangun jembatan antara Pulau Funen dan Zealand di Denmark, dirombak dan didatangkan dari Dunkerque, Prancis. Sungguh mengagumkan, kapal derek kelas berat ini ”dapat mengangkat benda seberat 30 pesawat Boeing 737 dan dapat beroperasi di laut lepas dengan ketepatan seperti ahli bedah”. Dengan panduan sistem penentuan posisi global yang menggunakan satelit, kapal ini dapat menempatkan penopang-penopang dan semua potongan lainnya dengan keakuratan kurang dari satu inci.—Lihat gambar, halaman 18.
Apa Pengaruhnya terhadap Pulau Itu?
Jembatan baru itu adalah lambang kemajuan. Akan tetapi, bagi beberapa orang, pertanyaan tentang masa depannya masih belum terjawab. Bahkan sekarang, tujuh tahun setelah jembatan itu diresmikan, masih terlalu awal untuk meramalkan dampak keseluruhan dari jembatan itu, khususnya terhadap lingkungan. Pada tahun 2002, seorang ilmuwan lobster melaporkan bahwa jembatan itu tampaknya tidak mempengaruhi populasi lobster. Ia juga mengatakan, ”Dalam lima tahun terakhir populasi kepiting batu melonjak.” Bagaimana pengaruhnya terhadap pariwisata?
Selama periode belum lama ini, pariwisata ”melonjak sebanyak 61 persen”, kata sebuah laporan. Tentu saja, kebanyakan wisatawan berkunjung selama musim panas. Selain itu, antara tahun 1996 dan 2001, nilai ekspor hampir berlipat ganda. Lapangan kerja juga meningkat. Di sisi negatifnya, banyak orang yang sebelumnya bekerja di jasa penyeberangan feri telah berkurang penghasilannya. Yang lain mengeluhkan tarif tol yang tinggi. Namun, sebagaimana yang mungkin dikatakan beberapa orang, kemajuan ada pengorbanannya.
Apakah kemudahan untuk pergi ke daratan utama telah mengubah pesona pulau itu? Beberapa orang yang datang ”dari jauh” untuk menikmati ketenangan pulau itu mungkin bertanya-tanya apakah mereka masih bisa menemukan tempat pelarian dari daratan utama yang supersibuk di lanskap yang belum terusik dan bukit pasir yang putih yang disebut Abegweit, ”peradaban di tengah ombak”, oleh penduduk asli Micmac.
Sesungguhnya, Jembatan Konfederasi adalah prestasi yang sangat mengesankan. Apakah para pengemudi akan tertidur sewaktu menyeberangi jembatan ini? Tentu tidak. Desainnya yang mirip huruf S akan membuat mereka tetap siaga untuk menikmati perjalanannya. Bisa jadi jembatan ini akan memberi Anda motivasi tambahan untuk mengunjungi ”Taman di Teluk” ini dan merasakan kehidupan yang damai di pulau itu, tidak soal apakah Anda pernah membaca buku Anne of Green Gables atau tidak.


Susahnya Perjalanan di Musim Dingin
  Para pemukim Eropa masa awal di Pulau Prince Edward segera mendapati bahwa hamparan potongan es yang labil memutuskan hubungan dengan daratan utama selama lima bulan dalam setahun. Menyeberangi es apung yang selalu bergerak, sering kali sambil diterpa angin badai, merupakan pekerjaan yang menciutkan nyali. Jelaslah, itu bukan untuk orang yang penakut. Pada musim dingin 1775, para pemukim itu pertama kali berupaya menyeberangi selat ini dengan menggunakan kano-kano kecil yang dipasangi cadik kayu yang mereka tiru dari penduduk asli Micmac. Sejak itu, angkutan surat dan penumpang menyeberangi selat di sepanjang musim dingin dengan lebih teratur, sekalipun ”jarang ada antrean penumpang yang berebut naik perahu es itu”, kata buku Lifeline—The Story of the Atlantic Ferries and Coastal Boats. F.H. MacArthur mengatakan dalam bukunya, Maritime Advocate and Busy East, ”Kaum wanita yang menyeberang ditarik biaya dua kali lipat karena mereka tidak akan diminta melakukan pekerjaan kasar apa pun. Penumpang pria diikat pada perahu dengan sabuk kulit, dengan dua tujuan, yakni untuk menarik perahu sewaktu terjebak es dan untuk mencegah [pria-pria itu] tenggelam kalau-kalau mereka tercebur ke air. Perahu itu panjangnya lima meter, lebarnya satu meter, [dengan] haluannya yang lancip ke atas seperti cadik. Bagian luar perahu dilapisi timah tebal.” Penyeberangan terakhir dengan perahu-perahu es ini diperkirakan terjadi pada tanggal 28 April 1917, setelah pemerintah mendapatkan kapal pemecah es yang dapat berlayar melewati es dengan lebih teratur dan lebih aman dibanding perahu es.

Source : Wachtower Library 2011