no matter what they say, winna is winna not someone else , iam not perfect but i can be perfect for all people who love me
Kamis, 21 Maret 2013
Rabu, 20 Maret 2013
When “Little Brother” Comes Home
EACH spring, after seven or eight
months of nomadic life at sea, the puffin returns to its home in Arctic
waters. It is breeding season, and the puffin seems to be dressed up
for the occasion. Indeed, its feet have turned bright orange, and its
bill has grown a colorful plate, which is later shed. The distinct
black-and-white plumage remains year round, and this gives the puffin a
somewhat clerical appearance. Perhaps this explains the Atlantic
puffin’s scientific name Fratercula arctica, which means “little friar, or brother, of the north.”*
Puffins head for their cliffside
burrows in small groups called rafts, each of which comprises about 20
or 30 birds. Either during the journey or upon reaching the burrow, the
puffin will find its mate. Interestingly, many puffins keep the same
burrow—and the same mate—year after year.
Puffins can fly, but they are
clearly not the world’s greatest “aviators.” Indeed, their arrival on
shore can resemble a crash landing! Furthermore, the puffin’s takeoff is
somewhat clumsy, and at times it seems that the bird’s wings will not
support its stout body. Some puffins even have trouble getting out of
the water. But once those wings are beating—and they may beat as rapidly
as 400 times a minute—the puffin can achieve a cruising speed of
50 miles [80 km] per hour.
Puffins are obviously more
comfortable at sea than on land. But come to land they must, for a
puffin couple will have to prepare a burrow for their young. Upon
reaching land, a couple will clean the burrow, which may measure
anywhere from 20 inches [50 cm] in length to about four times
that size. They line the burrow with bedding consisting of grass, twigs,
and feathers. Some puffins nest in cracks under boulders or in rocky
crevices. Using its bill, the puffin picks its way through dirt and then
shovels the dirt away with its webbed feet.
The courtship of the puffin
couple takes place in the water. During the ceremony the males flick
their heads, puff up their chests, and flutter their wings, and the
couples repeatedly tap bills. This last ritual, called billing,
continues even after mating. It appears to be the couple’s way of
affirming a mutual bond.
After an egg is laid, it is
literally taken under the parents’ wings—a responsibility shared by
father and mother. Six weeks later, when the chick hatches, the real
work begins. The gray-black, soft, down-covered hatchling is brooded for
a week to help it maintain its body temperature. The parent puffins
make an increasing number of trips to the sea to secure enough food for
their chick. The fishing expeditions are not too dangerous, since there
are so many puffins going out to sea and back to the burrows. It seems
that the flurry of activity makes it difficult for gulls and other
predators to attack.
Puffins are expert swimmers and
divers. Using their webbed feet as rudders and their wings to propel
themselves, they can remain underwater for more than 30 seconds, at
depths reaching nearly a hundred feet [30 m]. A puffin may return
home with one or two small fish—perhaps capelins or sand lances—in its
bill. Of course, the smaller the fish, the more the puffin can hold in
its beak. One was observed with a catch of more than 60!
Backward-pointing spines in its mouth enable the puffin to hold fish in
place while more are being caught. This is a good thing, considering
that a baby puffin can eat 50 fish a day.
After about six weeks, the parent
puffins head back to sea. The fledgling puffin, now left on its own,
slims down in preparation for leaving the burrow. In the evenings it
does wing exercises. Finally, under cover of darkness, the puffin
tumbles down to the sea and vigorously paddles away.
Two to three years will elapse
before the young puffin returns to its place of birth, and it will be
four or five years old before it mates. The mature puffin will perhaps
weigh a bit over a pound [490 g] and stand only about 12 inches [30 cm]
high. Even though it is relatively small, a healthy puffin can live for
about 25 years. One Atlantic puffin survived to the ripe old age of 39!
Experts estimate the Atlantic
puffin population to be 20 million. These birds are fascinating to
watch. “Even in the most ordinary things the puffin is entertaining,”
wrote David Boag and Mike Alexander in their book The Atlantic Puffin.
And if you live near the northern shores of the Atlantic or the
Pacific, perhaps you will see one. In any event, one thing is
certain—each spring, “little brother of the north” will come home, and a
new generation of dark-feathered seabirds will be born.
Source : Wachtower library 2011
What Has Been the Impact on the Island?
The new bridge stands as a
symbol of progress. For some, however, it leaves unanswered questions
about the future. Even now, seven years after its inauguration, it is
too early to predict what the overall impact of the bridge will be,
especially on the environment. In 2002 a lobster scientist reported that
the bridge did not seem to have affected the lobster population. He
also said: “The last five years have been the best for rock crab.” How
has tourism been affected?
During a recent period, tourism
increased by “a whopping 61 per cent,” says one report. Of course, most
tourists come during the summer season. In addition, between 1996 and
2001, exports almost doubled. Employment also improved. On the negative
side, many of those who were employed by the former ferry service are
earning far less. Another complaint made by some is the high toll price.
But then, as some might say, progress has its price.
Has easier access to the
mainland changed the charm of the island? Some who come “from away” to
enjoy the tranquillity of the island may wonder if they can still find
an escape from the hectic pace of the mainland in the unspoiled
landscape and sand dunes of Abegweit, the “cradle in the waves,” as the native Micmac people called it.
Source : Wachtower library 2011
Eksploitasi Seksual atas Anak-Anak—Problem Seluas Dunia
Masyarakat manusia sedang diguncang oleh bentuk penganiayaan yang mengejutkan atas anak-anak yang berlangsung dalam ruang lingkup dan sifat yang tidak dikenal luas sebelumnya sampai tahun-tahun belakangan ini. Untuk melihat apa yang dapat dilakukan mengenai hal itu, wakil-wakil dari 130 negara berkumpul di Stockholm, Swedia, dalam Kongres Sedunia Menentang Eksploitasi Seksual Komersial atas Anak-Anak yang pertama. Koresponden Sedarlah! di Swedia juga hadir di sana.
KETIKA Magdalen berusia 14 tahun, ia dibujuk untuk bekerja sebagai ”pramuria” bar di Manila, Filipina. Padahal, pekerjaannya termasuk membawa para tamu pria ke sebuah kamar yang sempit dan menelanjangi tubuhnya untuk dieksploitasi secara seksual oleh pria-pria itu—rata-rata 15 pria setiap malam dan 30 pria pada hari Sabtu. Kadang-kadang, sewaktu ia mengatakan tidak sanggup lagi, manajernya akan memaksanya untuk terus bekerja. Ia sering kali selesai bekerja pada pukul empat pagi, dengan perasaan lesu, depresi, dan sengsara.
Sareoun adalah bocah lelaki jalanan yang yatim piatu di Phnom Penh, Kamboja. Ia mengidap sifilis dan terkenal suka ’berkencan’ dengan orang-orang asing. Ia diberi tempat tinggal di sebuah pagoda, tempat ia semestinya ’dirawat’ oleh seorang bekas biarawan. Akan tetapi, pria ini menganiaya anak lelaki itu secara seksual dan memaksanya berhubungan seks dengan orang-orang asing. Sewaktu tempat tinggal Sareoun di pagoda hancur, ia mulai tinggal dengan bibinya tetapi masih dipaksa untuk bekerja di jalanan.
Ini hanyalah dua contoh dari problem yang mengerikan yang dibahas pada akhir tahun lalu dalam Kongres Sedunia Menentang Eksploitasi Seksual Komersial Atas Anak-Anak. Seberapa luaskah praktek ini menyebar? Ratusan ribu anak terlibat—bahkan, menurut beberapa pihak jumlahnya jutaan. Seorang delegasi meringkaskan problemnya, ”Anak-anak diperjualbelikan sebagaimana layaknya komoditi seksual dan ekonomi. Mereka diperdagangkan di dalam negeri dan menyeberangi perbatasan seperti barang selundupan, dikurung dalam rumah-rumah bordil dan dipaksa menyerahkan diri kepada sejumlah besar pengeksploitasi seks.”
Dalam kata-kata pembukaannya untuk pertemuan itu, perdana menteri Swedia, Göran Persson, mencap eksploitasi ini sebagai ”kategori kejahatan yang paling brutal, paling biadab dan menjijikkan”. Seorang wakil dari Perserikatan Bangsa-Bangsa menyebut itu ”adalah penyerangan dari segala penjuru atas anak-anak . . . , benar-benar keji dan adalah pelanggaran yang paling hina atas hak-hak asasi manusia yang dapat dibayangkan”. Banyak pernyataan kegusaran yang serupa terhadap eksploitasi seksual atas anak-anak disuarakan dari forum sepanjang berlangsungnya kongres seraya ruang lingkup, sifat, penyebab, dan dampak dari hal tersebut diulas.
”Ruang lingkupnya transnasional, dampaknya transgenerasi (mencakup generasi berikutnya),” demikian salah satu sumber menyatakan. Dokumen lain menyatakan, ”Dipercayai bahwa sekitar 1 juta anak memasuki pasar seks ilegal bernilai miliaran dolar setiap tahunnya.” Apa dampaknya? ”Perasaan harga diri, identitas, dan kepercayaan diri pada anak-anak dirongrong dan kapasitas mereka untuk menaruh kepercayaan menjadi tumpul. Kesehatan fisik dan emosi mereka dipertaruhkan, hak-hak mereka dilanggar dan masa depan mereka berada dalam bahaya.”
Beberapa Penyebab
Apa saja penyebab-penyebab dari ledakan pertumbuhan problem ini? Dinyatakan bahwa beberapa anak ”terpaksa masuk ke dalam pelacuran karena keadaan, sebagai jalan untuk bertahan hidup di jalanan, membantu menafkahi keluarga mereka, atau untuk membeli pakaian dan barang-barang. Yang lain-lain terbujuk oleh serangan gencar dari sosok konsumen dalam media periklanan”. Sedangkan anak-anak lain diculik dan dipaksa untuk dijadikan pelacur. Terkikisnya nilai-nilai moral dengan hebat di mana-mana, serta perasaan keputusasaan yang umum, juga disebut sebagai penyebabnya.
Banyak anak perempuan dan anak lelaki terjerumus dalam perdagangan seks karena penganiayaan oleh keluarga—kekerasan dan inses di rumah memaksa mereka melarikan diri ke jalanan. Di sana, mereka menghadapi risiko dianiaya oleh para pedofilia dan yang lain, bahkan, tampaknya, oleh beberapa polisi. Sebuah laporan sehubungan dengan problem itu yang berjudul Kids for Hire menceritakan mengenai Katia yang berusia enam tahun, di Brasil. Sewaktu ia ditangkap oleh seorang polisi, sang polisi memaksanya melakukan tindakan yang tidak senonoh dan mengancam membunuh keluarga Katia bila Katia melaporkan kepada atasannya. Keesokan harinya polisi tersebut kembali bersama lima pria lain, semuanya ingin Katia memberikan jasa seksual yang sama kepada mereka.
Children’s Ombudsman, sebuah yayasan Swedia, memberi tahu para delegasi, ”Apabila diadakan penelitian sehubungan dengan penyebab pelacuran anak-anak, tidak diragukan bahwa wisata [seks] merupakan salah satu penyebab utamanya.” Sebuah laporan mengatakan, ”Peningkatan yang luar biasa dari pelacuran anak-anak selama sepuluh tahun terakhir merupakan akibat langsung dari bisnis wisata. Pelacuran anak-anak merupakan atraksi pariwisata terbaru yang ditawarkan oleh negara-negara berkembang.” ”Wisata seks” dari Eropa, Amerika Serikat, Jepang, dan tempat-tempat lain menciptakan permintaan yang besar akan pelacur anak-anak di seluruh dunia. Sebuah perusahaan penerbangan Eropa menggunakan gambar kartun seorang anak dalam pose yang eksplisit secara seksual untuk mempromosikan wisata seks. Biro-biro perjalanan mengatur wisata seks untuk ribuan orang setiap tahun.
Yang juga berada dalam daftar panjang penyebabnya adalah promosi industri seks anak-anak secara internasional melalui teknologi baru. Internet, bersama teknologi komputer lain yang terkait, dilaporkan menjadi sumber pornografi tunggal terbesar. Demikian pula, peralatan video dengan harga yang murah telah memudahkan produksi pornografi anak-anak.
Siapakah Mereka?
Banyak dari antara orang dewasa yang menganiaya anak-anak secara seksual adalah para pedofilia. Seorang pedofilia memiliki ketertarikan seksual yang menyimpang kepada anak-anak. Menurut Children’s Ombudsman dari Swedia, ”mereka tidak selalu pria-pria yang berumur dan lusuh yang mengenakan jas hujan atau tipe macho yang penuh kekerasan. Umumnya seorang pedofilia adalah pria setengah baya yang berpendidikan baik, sering kali bekerja dengan anak-anak sebagai guru, dokter, pekerja sosial atau seorang imam”.
Kelompok asal Swedia itu menyoroti contoh Rosario, seorang gadis asal Filipina berusia 12 tahun yang dianiaya secara seksual oleh seorang turis seks yang adalah dokter asal Austria. Penganiayaan sang dokter mengakibatkan kematian Rosario.
Carol Bellamy, direktur eksekutif dari UNICEF (Dana Anak-Anak Internasional PBB) di Jenewa, menyatakan sebagai berikut sehubungan dengan gadis asal Filipina berusia 12 tahun itu, ”Sering kali justru orang dewasa yang dipercayakan merawat dan melindungi anak-anak yang mengizinkan dan melestarikan praktek yang tidak dapat ditoleransi ini. Termasuk di antaranya adalah guru, pakar kesehatan, petugas polisi, politisi, dan anggota pemimpin agama yang memanfaatkan prestise dan wewenang mereka untuk mengeksploitasi anak-anak secara seksual.”
Agama Terlibat
Seorang delegasi dari Gereja Katolik Roma di kongres Stockholm menyatakan bahwa eksploitasi anak-anak adalah ”kejahatan yang paling menjijikkan” dan merupakan ”akibat dari penyimpangan yang teramat dalam serta hancurnya norma-norma”. Meskipun demikian, Gereja Katolik telah dipengaruhi secara hebat oleh praktek-praktek semacam itu yang berlangsung di antara para pemimpin agamanya sendiri.
Dalam terbitan Newsweek tertanggal 16 Agustus 1993, sebuah artikel berjudul ”Priests and Abuse” (”Imam dan Penganiayaan”) melaporkan ”skandal terburuk dari pemimpin agama dalam sejarah modern Gereja Katolik AS”. Laporan itu menyatakan, ”Sementara tuduhan-tuduhan yang tidak terbukti kebenarannya telah diajukan terhadap kira-kira 400 imam sejak tahun 1982, beberapa pemimpin agama memperkirakan bahwa sebanyak 2.500 imam telah menganiaya anak-anak atau remaja secara seksual. . . . Selain menghabiskan uang, skandal itu telah sangat mempermalukan pihak gereja—dan mengancam beberapa dari wewenang moralnya.” Agama-agama lain di seluruh dunia berada dalam situasi yang sama.
Ray Wyre, seorang konsultan kejahatan seks asal Inggris, memberi tahu kongres Stockholm tentang dua anak lelaki yang dianiaya secara sadis oleh seorang imam. Salah seorang anak lelaki itu sekarang mengelola sebuah yayasan bagi anak-anak korban penganiayaan seksual oleh para imam, sedangkan anak yang lain menjadi penganiaya.
Mettanando Bhikkhu, seorang sarjana Buddhisme dari Thailand, melaporkan bahwa ”beberapa jenis praktek Buddhisme ikut bertanggung jawab atas eksploitasi seksual atas anak-anak secara komersial di Thailand hingga taraf tertentu. Di desa-desa setempat di Thailand, para biarawan adakalanya memperoleh keuntungan dari uang yang dibawa ke masyarakat oleh anak-anak yang dipaksa ke dalam pelacuran”.
Apa yang Dapat Dilakukan?
Dr. Julia O’Connell Davidson, dari Leicester University di Inggris, mengimbau kongres untuk memerangi tindakan membenarkan diri dari para pengeksploitasi sehubungan dengan perilaku mereka. Para penganiaya sering kali menyorot kepada apa yang dianggap sebagai kelonggaran seksual dan perbuatan amoral yang dilakukan si anak, dengan berpendapat bahwa anak itu memang sudah kotor dan tak bernilai. Pengeksploitasi lain menggunakan pernyataan yang diputarbalikkan dan palsu bahwa tidak ada bahaya yang akan diakibatkan oleh tindakan mereka dan bahwa sang anak mendapat manfaat.
Sebuah panel yang membahas tentang wisata seks merekomendasikan untuk memeranginya melalui pendidikan dalam kurikulum sekolah. Selain itu, informasi yang menentang eksploitasi seksual atas anak-anak seharusnya menjangkau para pelancong selama seluruh perjalanan wisata—sebelum berangkat, selama perjalanan, dan di tempat tujuan.
Sehubungan dengan teknologi komunikasi yang baru, sebuah panel menyarankan agar bangsa-bangsa seharusnya diperlengkapi dengan pedoman untuk menyingkirkan bahan-bahan yang mengeksploitasi anak-anak. Pembentukan sebuah lembaga tunggal internasional untuk mengkoordinasi kegiatan dalam bidang ini dipertimbangkan. Panel lain merekomendasikan agar pornografi anak yang dihasilkan oleh komputer dan agar kepemilikan pornografi anak secara umum seharusnya dinyatakan sebagai pelanggaran pidana di semua negara, dengan hukuman yang ditetapkan oleh undang-undang.
Apa yang dapat dilakukan orang-tua? Sebuah panel yang membahas peranan media menyarankan agar orang-tua bertanggung jawab untuk melindungi anak-anak mereka. Panel itu menyatakan, ”Orang-tua bukan hanya membimbing anak-anak seraya mereka berkembang menjadi konsumen media melainkan harus menyediakan informasi tambahan, penjelasan, dan sumber informasi yang beraneka ragam untuk mengimbangi dampak dari media serta membantu sang anak bertumbuh dalam pemahaman.”
Sebuah program TV Swedia yang meliput kongres itu menekankan perlunya orang-tua mengawasi anak-anak mereka dengan lebih baik lagi dan membuat mereka tanggap terhadap bahaya. Akan tetapi, program itu menyarankan, ”Jangan hanya memperingatkan anak-anak terhadap ’pria tua yang berpikiran kotor’, karena anak-anak . . . dengan demikian berpikir bahwa yang mereka harus waspadai hanyalah pria yang berumur dan lusuh, sementara pelaku kejahatan semacam itu boleh jadi adalah yang berseragam atau yang berpakaian rapi. Oleh karena itu, peringatkan mereka terhadap orang-orang asing yang memperlihatkan minat yang ganjil kepada mereka.” Tentu saja, anak-anak hendaknya juga diperingatkan—dan didesak untuk melaporkan kepada orang-orang yang berwenang—siapa pun yang melakukan pendekatan yang tidak pantas kepada mereka, termasuk orang-orang yang mereka kenal.
Jalan Keluar Satu-satunya
Yang tidak dapat disarankan oleh kongres Stockholm adalah caranya mengatasi penyebab eksploitasi seksual atas anak-anak. Ini termasuk terkikisnya nilai-nilai moral dengan hebat di mana-mana; meningkatnya sikap mementingkan diri dan hasrat akan perkara-perkara materi; berkembangnya sikap tidak respek kepada undang-undang yang dibuat untuk melindungi orang-orang dari ketidakadilan; meningkatnya ketidakpedulian akan kesejahteraan, harga diri, dan kehidupan orang lain; kehancuran lembaga keluarga; penyebarluasan kemiskinan akibat ledakan penduduk, pengangguran, urbanisasi, dan migrasi; bertumbuhnya rasisme terhadap orang-orang asing dan pengungsi; produksi dan perdagangan obat bius yang terus bertumbuh; serta rusaknya pandangan, praktek, dan tradisi agama.
Meskipun eksploitasi seksual atas anak-anak adalah hal yang mengejutkan, keburukan semacam ini tidak mengherankan bagi para pembaca Alkitab yang saksama. Mengapa demikian? Karena kita sekarang hidup dalam apa yang Alkitab sebut ”hari-hari terakhir” dan, menurut Firman Allah, sekaranglah ”masa kritis yang sulit dihadapi”. (2 Timotius 3:1-5, 13) Jadi apakah mengherankan bahwa moralitas telah berubah dari buruk menjadi lebih buruk lagi?
Akan tetapi, Alkitab seterusnya menunjukkan jalan keluar satu-satunya bagi problem dunia yang luar biasa—pembersihan secara menyeluruh oleh Allah Yang Mahakuasa. Ia segera akan memanifestasikan kekuasaan-Nya dan menyingkirkan semua orang di bumi yang tidak menaati prinsip dan hukum-Nya yang adil-benar, ”Orang jujurlah akan mendiami tanah, dan orang yang tak bercelalah yang akan tetap tinggal di situ, tetapi orang fasik akan dipunahkan dari tanah itu.”—Amsal 2:21, 22; 2 Tesalonika 1:6-9.
Orang-orang yang ”dipunahkan” akan termasuk semua yang melacurkan anak-anak dan orang-orang bejat yang menyalahgunakan anak-anak. Firman Allah menyatakan, ”Orang yang melakukan percabulan . . . ataupun pezina . . . ataupun pria yang berbaring dengan pria [atau anak lelaki] . . . tidak akan mewarisi kerajaan Allah.” (1 Korintus 6:9, 10) Alkitab menambahkan bahwa ”mereka yang menjijikkan dalam kekotoran mereka . . . dan orang-orang yang melakukan percabulan” akan diserahkan kepada ”kematian kedua”—kebinasaan kekal.—Penyingkapan 21:8.
Allah akan membersihkan bumi dan mendatangkan sistem perkara yang sepenuhnya baru dan adil, ”langit baru dan bumi baru”. (2 Petrus 3:13) Kemudian, dalam dunia baru ciptaan-Nya itu, orang-orang yang bejat dan menyimpang tidak akan pernah lagi menarik keuntungan dari orang-orang yang tidak bersalah. Dan orang-orang yang tidak bersalah tidak pernah lagi harus takut menjadi korban, karena ”tidak akan ada orang yang membuat mereka gemetar”.—Mikha 4:4, NW.
Source : Wachtower library 2011 edisi sedarlah tahun 1997
KETIKA Magdalen berusia 14 tahun, ia dibujuk untuk bekerja sebagai ”pramuria” bar di Manila, Filipina. Padahal, pekerjaannya termasuk membawa para tamu pria ke sebuah kamar yang sempit dan menelanjangi tubuhnya untuk dieksploitasi secara seksual oleh pria-pria itu—rata-rata 15 pria setiap malam dan 30 pria pada hari Sabtu. Kadang-kadang, sewaktu ia mengatakan tidak sanggup lagi, manajernya akan memaksanya untuk terus bekerja. Ia sering kali selesai bekerja pada pukul empat pagi, dengan perasaan lesu, depresi, dan sengsara.
Sareoun adalah bocah lelaki jalanan yang yatim piatu di Phnom Penh, Kamboja. Ia mengidap sifilis dan terkenal suka ’berkencan’ dengan orang-orang asing. Ia diberi tempat tinggal di sebuah pagoda, tempat ia semestinya ’dirawat’ oleh seorang bekas biarawan. Akan tetapi, pria ini menganiaya anak lelaki itu secara seksual dan memaksanya berhubungan seks dengan orang-orang asing. Sewaktu tempat tinggal Sareoun di pagoda hancur, ia mulai tinggal dengan bibinya tetapi masih dipaksa untuk bekerja di jalanan.
Ini hanyalah dua contoh dari problem yang mengerikan yang dibahas pada akhir tahun lalu dalam Kongres Sedunia Menentang Eksploitasi Seksual Komersial Atas Anak-Anak. Seberapa luaskah praktek ini menyebar? Ratusan ribu anak terlibat—bahkan, menurut beberapa pihak jumlahnya jutaan. Seorang delegasi meringkaskan problemnya, ”Anak-anak diperjualbelikan sebagaimana layaknya komoditi seksual dan ekonomi. Mereka diperdagangkan di dalam negeri dan menyeberangi perbatasan seperti barang selundupan, dikurung dalam rumah-rumah bordil dan dipaksa menyerahkan diri kepada sejumlah besar pengeksploitasi seks.”
Dalam kata-kata pembukaannya untuk pertemuan itu, perdana menteri Swedia, Göran Persson, mencap eksploitasi ini sebagai ”kategori kejahatan yang paling brutal, paling biadab dan menjijikkan”. Seorang wakil dari Perserikatan Bangsa-Bangsa menyebut itu ”adalah penyerangan dari segala penjuru atas anak-anak . . . , benar-benar keji dan adalah pelanggaran yang paling hina atas hak-hak asasi manusia yang dapat dibayangkan”. Banyak pernyataan kegusaran yang serupa terhadap eksploitasi seksual atas anak-anak disuarakan dari forum sepanjang berlangsungnya kongres seraya ruang lingkup, sifat, penyebab, dan dampak dari hal tersebut diulas.
”Ruang lingkupnya transnasional, dampaknya transgenerasi (mencakup generasi berikutnya),” demikian salah satu sumber menyatakan. Dokumen lain menyatakan, ”Dipercayai bahwa sekitar 1 juta anak memasuki pasar seks ilegal bernilai miliaran dolar setiap tahunnya.” Apa dampaknya? ”Perasaan harga diri, identitas, dan kepercayaan diri pada anak-anak dirongrong dan kapasitas mereka untuk menaruh kepercayaan menjadi tumpul. Kesehatan fisik dan emosi mereka dipertaruhkan, hak-hak mereka dilanggar dan masa depan mereka berada dalam bahaya.”
Beberapa Penyebab
Apa saja penyebab-penyebab dari ledakan pertumbuhan problem ini? Dinyatakan bahwa beberapa anak ”terpaksa masuk ke dalam pelacuran karena keadaan, sebagai jalan untuk bertahan hidup di jalanan, membantu menafkahi keluarga mereka, atau untuk membeli pakaian dan barang-barang. Yang lain-lain terbujuk oleh serangan gencar dari sosok konsumen dalam media periklanan”. Sedangkan anak-anak lain diculik dan dipaksa untuk dijadikan pelacur. Terkikisnya nilai-nilai moral dengan hebat di mana-mana, serta perasaan keputusasaan yang umum, juga disebut sebagai penyebabnya.
Banyak anak perempuan dan anak lelaki terjerumus dalam perdagangan seks karena penganiayaan oleh keluarga—kekerasan dan inses di rumah memaksa mereka melarikan diri ke jalanan. Di sana, mereka menghadapi risiko dianiaya oleh para pedofilia dan yang lain, bahkan, tampaknya, oleh beberapa polisi. Sebuah laporan sehubungan dengan problem itu yang berjudul Kids for Hire menceritakan mengenai Katia yang berusia enam tahun, di Brasil. Sewaktu ia ditangkap oleh seorang polisi, sang polisi memaksanya melakukan tindakan yang tidak senonoh dan mengancam membunuh keluarga Katia bila Katia melaporkan kepada atasannya. Keesokan harinya polisi tersebut kembali bersama lima pria lain, semuanya ingin Katia memberikan jasa seksual yang sama kepada mereka.
Children’s Ombudsman, sebuah yayasan Swedia, memberi tahu para delegasi, ”Apabila diadakan penelitian sehubungan dengan penyebab pelacuran anak-anak, tidak diragukan bahwa wisata [seks] merupakan salah satu penyebab utamanya.” Sebuah laporan mengatakan, ”Peningkatan yang luar biasa dari pelacuran anak-anak selama sepuluh tahun terakhir merupakan akibat langsung dari bisnis wisata. Pelacuran anak-anak merupakan atraksi pariwisata terbaru yang ditawarkan oleh negara-negara berkembang.” ”Wisata seks” dari Eropa, Amerika Serikat, Jepang, dan tempat-tempat lain menciptakan permintaan yang besar akan pelacur anak-anak di seluruh dunia. Sebuah perusahaan penerbangan Eropa menggunakan gambar kartun seorang anak dalam pose yang eksplisit secara seksual untuk mempromosikan wisata seks. Biro-biro perjalanan mengatur wisata seks untuk ribuan orang setiap tahun.
Yang juga berada dalam daftar panjang penyebabnya adalah promosi industri seks anak-anak secara internasional melalui teknologi baru. Internet, bersama teknologi komputer lain yang terkait, dilaporkan menjadi sumber pornografi tunggal terbesar. Demikian pula, peralatan video dengan harga yang murah telah memudahkan produksi pornografi anak-anak.
Siapakah Mereka?
Banyak dari antara orang dewasa yang menganiaya anak-anak secara seksual adalah para pedofilia. Seorang pedofilia memiliki ketertarikan seksual yang menyimpang kepada anak-anak. Menurut Children’s Ombudsman dari Swedia, ”mereka tidak selalu pria-pria yang berumur dan lusuh yang mengenakan jas hujan atau tipe macho yang penuh kekerasan. Umumnya seorang pedofilia adalah pria setengah baya yang berpendidikan baik, sering kali bekerja dengan anak-anak sebagai guru, dokter, pekerja sosial atau seorang imam”.
Kelompok asal Swedia itu menyoroti contoh Rosario, seorang gadis asal Filipina berusia 12 tahun yang dianiaya secara seksual oleh seorang turis seks yang adalah dokter asal Austria. Penganiayaan sang dokter mengakibatkan kematian Rosario.
Carol Bellamy, direktur eksekutif dari UNICEF (Dana Anak-Anak Internasional PBB) di Jenewa, menyatakan sebagai berikut sehubungan dengan gadis asal Filipina berusia 12 tahun itu, ”Sering kali justru orang dewasa yang dipercayakan merawat dan melindungi anak-anak yang mengizinkan dan melestarikan praktek yang tidak dapat ditoleransi ini. Termasuk di antaranya adalah guru, pakar kesehatan, petugas polisi, politisi, dan anggota pemimpin agama yang memanfaatkan prestise dan wewenang mereka untuk mengeksploitasi anak-anak secara seksual.”
Agama Terlibat
Seorang delegasi dari Gereja Katolik Roma di kongres Stockholm menyatakan bahwa eksploitasi anak-anak adalah ”kejahatan yang paling menjijikkan” dan merupakan ”akibat dari penyimpangan yang teramat dalam serta hancurnya norma-norma”. Meskipun demikian, Gereja Katolik telah dipengaruhi secara hebat oleh praktek-praktek semacam itu yang berlangsung di antara para pemimpin agamanya sendiri.
Dalam terbitan Newsweek tertanggal 16 Agustus 1993, sebuah artikel berjudul ”Priests and Abuse” (”Imam dan Penganiayaan”) melaporkan ”skandal terburuk dari pemimpin agama dalam sejarah modern Gereja Katolik AS”. Laporan itu menyatakan, ”Sementara tuduhan-tuduhan yang tidak terbukti kebenarannya telah diajukan terhadap kira-kira 400 imam sejak tahun 1982, beberapa pemimpin agama memperkirakan bahwa sebanyak 2.500 imam telah menganiaya anak-anak atau remaja secara seksual. . . . Selain menghabiskan uang, skandal itu telah sangat mempermalukan pihak gereja—dan mengancam beberapa dari wewenang moralnya.” Agama-agama lain di seluruh dunia berada dalam situasi yang sama.
Ray Wyre, seorang konsultan kejahatan seks asal Inggris, memberi tahu kongres Stockholm tentang dua anak lelaki yang dianiaya secara sadis oleh seorang imam. Salah seorang anak lelaki itu sekarang mengelola sebuah yayasan bagi anak-anak korban penganiayaan seksual oleh para imam, sedangkan anak yang lain menjadi penganiaya.
Mettanando Bhikkhu, seorang sarjana Buddhisme dari Thailand, melaporkan bahwa ”beberapa jenis praktek Buddhisme ikut bertanggung jawab atas eksploitasi seksual atas anak-anak secara komersial di Thailand hingga taraf tertentu. Di desa-desa setempat di Thailand, para biarawan adakalanya memperoleh keuntungan dari uang yang dibawa ke masyarakat oleh anak-anak yang dipaksa ke dalam pelacuran”.
Apa yang Dapat Dilakukan?
Dr. Julia O’Connell Davidson, dari Leicester University di Inggris, mengimbau kongres untuk memerangi tindakan membenarkan diri dari para pengeksploitasi sehubungan dengan perilaku mereka. Para penganiaya sering kali menyorot kepada apa yang dianggap sebagai kelonggaran seksual dan perbuatan amoral yang dilakukan si anak, dengan berpendapat bahwa anak itu memang sudah kotor dan tak bernilai. Pengeksploitasi lain menggunakan pernyataan yang diputarbalikkan dan palsu bahwa tidak ada bahaya yang akan diakibatkan oleh tindakan mereka dan bahwa sang anak mendapat manfaat.
Sebuah panel yang membahas tentang wisata seks merekomendasikan untuk memeranginya melalui pendidikan dalam kurikulum sekolah. Selain itu, informasi yang menentang eksploitasi seksual atas anak-anak seharusnya menjangkau para pelancong selama seluruh perjalanan wisata—sebelum berangkat, selama perjalanan, dan di tempat tujuan.
Sehubungan dengan teknologi komunikasi yang baru, sebuah panel menyarankan agar bangsa-bangsa seharusnya diperlengkapi dengan pedoman untuk menyingkirkan bahan-bahan yang mengeksploitasi anak-anak. Pembentukan sebuah lembaga tunggal internasional untuk mengkoordinasi kegiatan dalam bidang ini dipertimbangkan. Panel lain merekomendasikan agar pornografi anak yang dihasilkan oleh komputer dan agar kepemilikan pornografi anak secara umum seharusnya dinyatakan sebagai pelanggaran pidana di semua negara, dengan hukuman yang ditetapkan oleh undang-undang.
Apa yang dapat dilakukan orang-tua? Sebuah panel yang membahas peranan media menyarankan agar orang-tua bertanggung jawab untuk melindungi anak-anak mereka. Panel itu menyatakan, ”Orang-tua bukan hanya membimbing anak-anak seraya mereka berkembang menjadi konsumen media melainkan harus menyediakan informasi tambahan, penjelasan, dan sumber informasi yang beraneka ragam untuk mengimbangi dampak dari media serta membantu sang anak bertumbuh dalam pemahaman.”
Sebuah program TV Swedia yang meliput kongres itu menekankan perlunya orang-tua mengawasi anak-anak mereka dengan lebih baik lagi dan membuat mereka tanggap terhadap bahaya. Akan tetapi, program itu menyarankan, ”Jangan hanya memperingatkan anak-anak terhadap ’pria tua yang berpikiran kotor’, karena anak-anak . . . dengan demikian berpikir bahwa yang mereka harus waspadai hanyalah pria yang berumur dan lusuh, sementara pelaku kejahatan semacam itu boleh jadi adalah yang berseragam atau yang berpakaian rapi. Oleh karena itu, peringatkan mereka terhadap orang-orang asing yang memperlihatkan minat yang ganjil kepada mereka.” Tentu saja, anak-anak hendaknya juga diperingatkan—dan didesak untuk melaporkan kepada orang-orang yang berwenang—siapa pun yang melakukan pendekatan yang tidak pantas kepada mereka, termasuk orang-orang yang mereka kenal.
Jalan Keluar Satu-satunya
Yang tidak dapat disarankan oleh kongres Stockholm adalah caranya mengatasi penyebab eksploitasi seksual atas anak-anak. Ini termasuk terkikisnya nilai-nilai moral dengan hebat di mana-mana; meningkatnya sikap mementingkan diri dan hasrat akan perkara-perkara materi; berkembangnya sikap tidak respek kepada undang-undang yang dibuat untuk melindungi orang-orang dari ketidakadilan; meningkatnya ketidakpedulian akan kesejahteraan, harga diri, dan kehidupan orang lain; kehancuran lembaga keluarga; penyebarluasan kemiskinan akibat ledakan penduduk, pengangguran, urbanisasi, dan migrasi; bertumbuhnya rasisme terhadap orang-orang asing dan pengungsi; produksi dan perdagangan obat bius yang terus bertumbuh; serta rusaknya pandangan, praktek, dan tradisi agama.
Meskipun eksploitasi seksual atas anak-anak adalah hal yang mengejutkan, keburukan semacam ini tidak mengherankan bagi para pembaca Alkitab yang saksama. Mengapa demikian? Karena kita sekarang hidup dalam apa yang Alkitab sebut ”hari-hari terakhir” dan, menurut Firman Allah, sekaranglah ”masa kritis yang sulit dihadapi”. (2 Timotius 3:1-5, 13) Jadi apakah mengherankan bahwa moralitas telah berubah dari buruk menjadi lebih buruk lagi?
Akan tetapi, Alkitab seterusnya menunjukkan jalan keluar satu-satunya bagi problem dunia yang luar biasa—pembersihan secara menyeluruh oleh Allah Yang Mahakuasa. Ia segera akan memanifestasikan kekuasaan-Nya dan menyingkirkan semua orang di bumi yang tidak menaati prinsip dan hukum-Nya yang adil-benar, ”Orang jujurlah akan mendiami tanah, dan orang yang tak bercelalah yang akan tetap tinggal di situ, tetapi orang fasik akan dipunahkan dari tanah itu.”—Amsal 2:21, 22; 2 Tesalonika 1:6-9.
Orang-orang yang ”dipunahkan” akan termasuk semua yang melacurkan anak-anak dan orang-orang bejat yang menyalahgunakan anak-anak. Firman Allah menyatakan, ”Orang yang melakukan percabulan . . . ataupun pezina . . . ataupun pria yang berbaring dengan pria [atau anak lelaki] . . . tidak akan mewarisi kerajaan Allah.” (1 Korintus 6:9, 10) Alkitab menambahkan bahwa ”mereka yang menjijikkan dalam kekotoran mereka . . . dan orang-orang yang melakukan percabulan” akan diserahkan kepada ”kematian kedua”—kebinasaan kekal.—Penyingkapan 21:8.
Allah akan membersihkan bumi dan mendatangkan sistem perkara yang sepenuhnya baru dan adil, ”langit baru dan bumi baru”. (2 Petrus 3:13) Kemudian, dalam dunia baru ciptaan-Nya itu, orang-orang yang bejat dan menyimpang tidak akan pernah lagi menarik keuntungan dari orang-orang yang tidak bersalah. Dan orang-orang yang tidak bersalah tidak pernah lagi harus takut menjadi korban, karena ”tidak akan ada orang yang membuat mereka gemetar”.—Mikha 4:4, NW.
Source : Wachtower library 2011 edisi sedarlah tahun 1997
Air bagi Turis?
”Banyak tempat rekreasi di dunia berupaya keras mengatasi arus turis, yang karena menuntut lebih banyak kolam renang dan lapangan golf, justru menyedot persediaan air di tempat rekreasi tersebut,” lapor The Guardian di London. ”Permasalahan itu bersifat luas dan global,” kata Tricia Barnett dari Tourism Concern. ”Kadang-kadang, Anda mendapati sebuah kampung [di Afrika] dengan satu keran saja, sedangkan setiap hotel mempunyai keran dan pancuran air di semua kamar.” Sebuah organisasi konservasi global menghitung bahwa seorang turis di Spanyol menggunakan 880 liter air per hari, sedangkan seorang penduduk setempat hanya menggunakan 250 liter air. Sebuah lapangan golf 18-hole di sebuah negeri yang kering bisa membutuhkan air sebanyak yang dibutuhkan oleh sebuah kota yang berpenduduk 10.000 orang. Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) PBB memperkirakan bahwa air yang digunakan 100 turis dalam 55 hari akan cukup menghasilkan beras untuk makanan 100 penduduk desa selama 15 tahun.
Source : Wachtower library 2011 edisi sedarlah tahun 2002
Source : Wachtower library 2011 edisi sedarlah tahun 2002
”Majikan Nomor Satu di Dunia”
Setiap
tahun, lebih dari 600 juta orang bepergian ke luar negeri. Ratusan juta
lainnya mengadakan perjalanan di dalam negeri untuk urusan bisnis atau
rekreasi. Alhasil, industri pariwisata—termasuk hotel, resor, maskapai
penerbangan, agen perjalanan, dan bisnis lain yang melayani orang yang
bepergian—digambarkan sebagai ”majikan nomor satu di dunia”.
DI SELURUH DUNIA, pariwisata menghasilkan
kira-kira empat triliun dolar AS setiap tahun. Secara perorangan, para
turis atau wisatawan mungkin tidak merasa dirinya tergabung dalam suatu gerakan
perdamaian sedunia, namun demikianlah industri ini digambarkan oleh Organisasi
Pariwisata Dunia PBB. Pada tahun 2004, Francesco Frangialli, sekretaris jenderal
organisasi itu, memberi tahu suatu konferensi tingkat presiden di Timur Tengah,
”Pariwisata dan perdamaian saling berkaitan. Pengaruh pariwisata sebegitu
kuatnya sehingga dapat mengubah situasi yang tampaknya tidak dapat diperbaiki
dan mewujudkan rekonsiliasi yang sebelumnya dianggap mustahil.”
Bagaimana asal mula industri yang berpengaruh
ini? Apakah pariwisata benar-benar bermanfaat? Dan, dapatkah ’pengaruh kuat
pariwisata’ benar-benar menghasilkan perdamaian?
Masa Keemasan Pariwisata
Benih-benih industri pariwisata modern di
negeri-negeri Barat ditabur khususnya pada abad ke-19. Seraya revolusi industri
meningkatkan jumlah kelas menengah di Eropa dan Amerika Serikat, semakin banyak
orang memiliki uang dan waktu untuk mengadakan perjalanan.
Selain itu, kemajuan-kemajuan besar dibuat
dalam sarana transportasi massal. Kereta api kuat membawa penumpang ke
kota-kota besar, dan kapal uap dengan cepat mengantar mereka ke benua-benua
lain. Guna melayani kebutuhan semakin banyak orang yang mengadakan perjalanan,
hotel-hotel besar menjamur di dekat stasiun dan pelabuhan.
Pada tahun 1841, pengusaha Inggris bernama
Thomas Cook melihat peluang bisnis dengan memadukan kedua elemen ini. Dialah
orang pertama yang menggabungkan transportasi, akomodasi, dan kegiatan di lokasi
yang diinginkan menjadi sebuah paket wisata liburan. ”Berkat sistem yang dibuat
oleh Tuan Cook,” tulis negarawan Inggris William Gladstone pada tahun
1860-an, ”semua golongan untuk pertama kalinya mendapatkan kemudahan untuk
bepergian ke negeri asing dan dapat mengenalnya sehingga mereka menyukainya,
bukan meremehkannya.”
Lonjakan pada Abad
Ke-20
Sayang sekali, meskipun pariwisata membuat
orang-orang semakin mengenal orang asing, hal itu tidak mencegah pecahnya dua
perang dunia selama paruh pertama abad ke-20. Namun, bukannya menghancurkan
pariwisata, perubahan sosial dan kemajuan teknologi yang dihasilkan oleh kedua
perang itu justru mempercepat pertumbuhan industri ini.
Perjalanan udara menjadi lebih cepat dan
lebih murah, jalan-jalan raya menyebar melintasi benua, dan kendaraan bermotor
berlipat ganda. Pada pertengahan abad ke-20, perjalanan liburan dan wisata
menjadi bagian yang diterima dalam kebudayaan Barat dan tersedia bagi
kebanyakan golongan masyarakat. Selain itu, jutaan keluarga memiliki televisi
dan terpesona oleh gambar-gambar lokasi eksotis, yang menambah hasrat mereka
untuk bepergian.
Pada awal 1960-an, jumlah turis internasional
mencapai 70 juta setiap tahun. Menjelang pertengahan 1990-an, jumlah itu
melesat menjadi lebih dari 500 juta! Di seluruh dunia, tempat rekreasi
bermunculan untuk melayani turis internasional dan domestik. Industri-industri
yang tidak secara langsung berkaitan dengan pariwisata pun meraup untung,
karena para turis mengkonsumsi makanan dan minuman dalam jumlah besar dan
menghabiskan uang untuk banyak barang dan jasa lain.
Dewasa ini, pariwisata penting bagi
perekonomian lebih dari 125 negeri. Sewaktu menandaskan manfaat yang dapat
dihasilkan pariwisata, sebuah pernyataan pers Organisasi Pariwisata Dunia PBB
2004 menjelaskan bahwa pariwisata dapat mengurangi kemiskinan dengan
menciptakan bisnis pariwisata berukuran kecil dan sedang. Seraya pariwisata
menciptakan lapangan kerja baru, ia dapat meningkatkan ”kesadaran orang akan
lingkungan, kebudayaan, dan sosial”.
Namun, Anda mungkin bertanya, ’Bagaimana
pariwisata bisa menghasilkan hal-hal tersebut? Dan, bagaimana hal itu dapat
bermanfaat bagi lingkungan?’
Menjajakan Alam guna
Menyelamatkannya
Pada awal tahun 1980-an, beberapa ilmuwan dan
pembuat film semakin berminat untuk menyelamatkan hutan hujan dan terumbu koral
serta makhluk-makhluk yang bergantung padanya. Laporan dan film dokumenter
tentang alam yang dihasilkannya meningkatkan minat publik untuk mengunjungi
keajaiban alam itu. Usaha-usaha kecil yang muncul untuk memenuhi kebutuhan para
ilmuwan dan pembuat film diperluas untuk melayani arus wisatawan yang berminat
pada ekologi.
Ekowisata, atau wisata alam, segera menjadi
populer dan menjadi segmen yang paling cepat perkembangannya dalam industri
pariwisata. Ya, mempromosikan keajaiban alam telah terbukti sangat
menguntungkan. Jurnalis Martha S. Honey menjelaskan, ”Di beberapa negeri,
wisata bernuansa alam telah berkembang pesat menjadi sumber devisa terbesar,
menyaingi pisang di Kosta Rika, kopi di Tanzania dan Kenya, dan tekstil serta
perhiasan di India.”
Dengan demikian, pariwisata telah menjadi
suatu insentif finansial yang bernilai untuk menyelamatkan flora dan fauna. ”Di
Kenya,” Honey menyatakan, ”diperkirakan bahwa seekor singa menghasilkan 7.000
dolar AS per tahun dari pariwisata, dan sekawanan gajah menghasilkan 610.000
dolar AS setiap tahun.” Terumbu koral Hawaii diperkirakan menghasilkan 360 juta
dolar AS setiap tahun dari ekowisata!
Apa Sesungguhnya Ekowisata
Itu
Laporan Program Lingkungan Hidup Perserikatan
Bangsa-Bangsa yang berjudul Ecotourism: Principles, Practices
and Policies for Sustainability berkata, ”Banyak
agen perjalanan dan pariwisata dengan gampang menggunakan istilah ’ekowisata’
dalam selebaran mereka, dan pemerintah telah menggunakan istilah ini secara
ekstensif untuk mempromosikan negeri mereka, tanpa mencoba mengimplementasikan
satu pun prinsip-prinsip yang paling dasar [dari ekowisata].” Bagaimana Anda
dapat menentukan apakah tur yang sedang Anda pertimbangkan benar-benar
tergolong ekowisata?
Megan Epler Wood, penulis laporan di atas,
mengatakan bahwa ekowisata yang baik harus memiliki fitur-fitur berikut:
Sebelum perjalanan, menyediakan informasi tentang kebudayaan dan lingkungan
yang akan dikunjungi serta panduan pakaian dan tingkah laku yang pantas;
menyediakan penjelasan yang terperinci kepada para partisipan tentang
karakteristik geografi, sosial, dan politik dari tempat tujuan dan kesempatan
untuk berinteraksi dengan orang-orang setempat selain hanya untuk tujuan
komersial; membayar lunas semua tiket masuk taman; dan menawarkan akomodasi
yang ramah lingkungan.
Apa yang Telah
Dicapai Ekowisata
Ekowisata sering kali bukan sekadar wisata
yang terorganisasi ke sebuah lokasi alam. Kata itu telah didefinisikan sebagai ”perjalanan
yang bertujuan ke kawasan-kawasan alami untuk memahami kebudayaan dan
fakta-fakta sehubungan dengan flora dan fauna daerah tersebut, sambil
berhati-hati agar tidak mengubah kesehatan ekosistem, sekaligus menghasilkan
peluang bisnis yang membuat konservasi sumber daya alam bermanfaat bagi
penduduk setempat”.
Apakah ekowisata telah mencapai prinsipnya
yang begitu luhur itu? Martin Wikelski, dari Princeton University, berkata, ”Ekowisata
merupakan salah satu faktor utama yang membuat [Kepulauan] Galapagos aman.” Di
Rwanda, Afrika, promosi ekowisata yang sukses dianggap telah berhasil
menyelamatkan populasi gorila gunung karena hal itu memberi penduduk setempat
sumber penghasilan alternatif selain perburuan gelap. Di negeri-negeri Afrika
lain, suaka margasatwa ditunjang oleh pengeluaran para turis.
Di seluruh dunia, ekowisata telah turut
berperan dalam kemajuan lingkungan serta sosial, dan industri pariwisata tak
dapat disangkal telah mendatangkan banyak keuntungan finansial. Namun, apakah
industri ini selalu bermanfaat? Bagaimana prospek masa depan untuk mengelilingi
dunia?
source : Wachtower library 2011 edisi sedarlah tahun 2005
Masa Depan Pariwisata
”Di
hampir setiap negara di dunia ini, ada contoh-contoh yang memperlihatkan bahwa
perkembangan pariwisata telah diakui sebagai biang keladi perusakan lingkungan.”—An
Introduction to Tourism, karya Leonard J. Lickorish
dan Carson L. Jenkins.
SELAIN mengancam lingkungan, pertumbuhan
wisata bisa turut menimbulkan problem-problem lain. Mari kita ulas secara
singkat beberapa di antaranya. Setelah itu, kita akan membahas kemungkinan di
masa depan untuk menjelajahi bumi yang menakjubkan ini dan mempelajari
keajaibannya, teristimewa penduduknya yang menyenangkan.
Masalah Lingkungan
Membeludaknya jumlah turis sekarang ini telah
menimbulkan masalah. ”Di India, Taj Mahal mengalami kerusakan karena para
pengunjung,” tulis peneliti Lickorish dan Jenkins, dan menambahkan, ”Di Mesir,
piramida-piramida juga terancam oleh jumlah pengunjung yang sangat besar.”
Selain itu, para pengarang ini memperingatkan
bahwa pariwisata yang tidak terkendali dapat mematikan atau menghambat
pertumbuhan tanaman yang terinjak-injak oleh para pengunjung yang menyerbu
cagar alam. Selain itu, spesies dapat terancam sewaktu turis mengoleksi
benda-benda seperti kulit kerang dan koral langka atau sewaktu penduduk
setempat mengumpulkannya untuk dijual kepada turis.
Para turis menciptakan polusi—rata-rata 1
kilogram limbah padat setiap hari per turis, menurut perkiraan Program
Lingkungan Hidup PBB. Bahkan, tempat-tempat yang paling terpencil pun tampaknya
juga terimbas. Belum lama ini, sebuah laporan dari Jaringan Aksi Perlindungan
Hutan Hujan mengatakan, ”Di sepanjang rute yang sering dilalui para turis di
Himalaya, sampah berserakan di jalan setapak dan hutan pegunungan telah dirusak
para pelancong yang mencari bahan bakar untuk memanaskan makanan dan air mandi.”
Selain itu, turis sering kali mengkonsumsi
sumber daya dalam jumlah yang tidak proporsional, yang seharusnya dinikmati
penduduk setempat. Misalnya, James Mak menulis dalam bukunya Tourism and
the Economy, ”Para turis di Grenada mengkonsumsi air tujuh kali
lebih banyak daripada penduduk setempat.” Ia menambahkan, ”Secara langsung
maupun tidak langsung, pariwisata menghabiskan 40 persen dari total energi yang
dikonsumsi di Hawaii, meskipun rata-rata hanya satu dari delapan orang di
Hawaii adalah turis.”
Meskipun para turis mungkin menghabiskan
banyak uang untuk mengunjungi negara-negara berkembang, kebanyakan dana itu
tidak dinikmati penduduk setempat. Bank Dunia memperkirakan bahwa hanya 45
persen dari pendapatan yang dihasilkan oleh pariwisata yang diterima negeri
tuan rumah—kebanyakan uang mengalir kembali ke negara-negara maju melalui
pengelola tur dari negeri lain dan hotel-hotel asing.
Dampak Sosial yang
Buruk
Para turis Barat yang relatif kaya yang
mengunjungi negara berkembang bisa memberikan pengaruh buruk terselubung—dan
kadang-kadang tidak terlalu terselubung—terhadap kebudayaan setempat. Misalnya,
para turis sering membawa barang-barang mahal agar bisa tinggal dengan nyaman.
Bagi penduduk setempat, kemewahan seperti itu mungkin tak terbayangkan
sebelumnya. Banyak penduduk setempat pun menginginkan barang-barang mahal
seperti itu tetapi tidak sanggup membelinya kecuali gaya hidup mereka berubah—perubahan
yang mungkin mencakup perilaku sosial yang merusak.
Mak menyebutkan problem-problem yang dapat
muncul, dan berkata bahwa meningkatnya pariwisata dapat ”turut menghilangkan
karakteristik unik kebudayaan dan komunitas, menciptakan konflik dalam
masyarakat tradisional sehubungan dengan penggunaan tanah milik masyarakat
serta sumber daya alam, serta meningkatkan kegiatan anti sosial, seperti
kejahatan dan pelacuran”.
Sekarang ini, para turis sering merasa bebas
untuk melakukan kegiatan yang segan mereka lakukan sewaktu mereka di rumah
bersama keluarga dan teman. Akibatnya, perbuatan amoral para turis telah
menjadi problem yang berdampak serius. Sewaktu menunjuk ke sebuah contoh
terkenal, Mak berkata, ”Di seluruh dunia, semakin banyak pihak yang
mengkhawatirkan dampak pariwisata terhadap pelacuran anak.” Pada tahun 2004,
kantor berita CNN melaporkan, ”’Menurut perkiraan yang dapat dipercaya, ada
16.000-20.000’ anak yang menjadi korban seks di Meksiko, ’kebanyakan tinggal di
daerah perbatasan, perkotaan, dan daerah wisata’.”
Manfaatnya Mengadakan Perjalanan
Bumi kita adalah rumah yang menakjubkan, yang
senantiasa menampilkan keajaibannya—panorama senja yang berwarna-warni, langit
bertaburkan bintang-bintang berkilauan, dan beraneka ragam tumbuhan serta
kehidupan satwa. Tidak soal di mana kita berada, kita menikmati beberapa di
antara hal-hal itu dan hal-hal lain yang menakjubkan dari bumi tempat kita
tinggal. Namun, alangkah bagusnya jika ada kesempatan bagi kita untuk
mengadakan perjalanan dan melihat contoh-contoh lain dari keajaiban bumi ini!
Tetapi, selain mengagumi pemandangan fisik
bumi, banyak turis berkata bahwa yang paling mengesankan dari perjalanan mereka
adalah mengenal orang-orang dari kebudayaan lain. Sering kali, mereka kemudian
menyadari bahwa pandangan negatif tentang orang lain tidaklah benar. Perjalanan
membantu mereka memahami orang dari ras dan kebudayaan lain dan menjalin
persahabatan yang berharga.
Satu pelajaran berkesan yang dipetik banyak
turis adalah bahwa harta benda tidak selalu membuat orang bahagia. Yang lebih
penting adalah hubungan dengan orang lain—menikmati persahabatan yang sudah ada
dan menjalin yang baru. Sebuah kisah di Alkitab memperlihatkan bagaimana ”kebaikan
manusiawi” yang diterima dari ”penduduk yang berbahasa asing” di Malta
mendatangkan manfaat bagi para musafir abad pertama yang mengalami karam kapal
di sana. (Kisah 28:1, 2) Dewasa ini, mengunjungi negeri lain dan
penduduknya telah turut menyadarkan banyak orang bahwa kita sebenarnya adalah
satu keluarga manusia dan bahwa kita punya potensi untuk tinggal bersama dengan
damai di bumi ini.
Saat ini, hanya relatif sedikit orang yang
dapat berkeliling dunia. Namun, bagaimana dengan di masa depan? Mungkinkah
kebanyakan, atau bahkan semua, orang dapat menikmatinya?
Source : Wachtower library 2011 edisi sedarlah tahun 2005
Pariwisata—Sebuah Industri Global
KAPAN terakhir kali Anda berkata kepada diri
sendiri, ’Saya butuh liburan’? Barangkali Anda merasa perlu melepaskan diri
dari ketegangan sehari-hari. Pernahkah Anda bepergian ke tempat yang jauh untuk
berlibur? Perhatikan hal ini: Hanya seabad yang lalu, mayoritas orang di bumi
tidak berlibur secara teratur. Selain itu, kebanyakan orang menghabiskan
seluruh hidupnya hanya dalam radius beberapa ratus kilometer di sekitar tempat
kelahirannya. Bepergian ke tujuan yang jauh untuk berlibur atau menimba ilmu
hanya dapat dinikmati oleh sekelompok kecil orang yang suka bertualang atau
yang kaya. Namun, dewasa ini, ratusan ribu orang dapat menjelajah ke seluruh
pelosok negerinya atau bahkan berkeliling dunia. Apa penyebab perubahan itu?
Setelah revolusi industri, jutaan orang
terlibat dalam memproduksi barang dan menyediakan jasa. Hasilnya adalah upah
yang lebih besar dan pada akhirnya pendapatan yang lebih banyak. Kemajuan besar
dalam teknologi juga menciptakan mesin-mesin yang mengambil alih pekerjaan yang
membutuhkan banyak tenaga serta biaya. Alhasil, banyak orang memiliki lebih
banyak waktu luang. Dengan adanya faktor-faktor ini, pada pertengahan tahun
1900-an, sarana transportasi umum yang lebih mudah terjangkau tersedia,
sehingga arus pariwisata pun terbuka. Kemudian, dengan menyuguhkan gambar
tempat-tempat yang jauh, industri komunikasi massa yang baru ditemukan
menimbulkan keinginan untuk berwisata.
Hasilnya adalah industri pariwisata global
yang berkembang pesat. Organisasi Pariwisata Dunia (WTO) meramalkan bahwa
jumlah orang yang berwisata ke luar negeri akan meningkat dari 613 juta
pada tahun 1997 menjadi 1,6 miliar pada tahun 2020—dan pada saat itu, angka ini
tampaknya tidak akan menurun. Peningkatan ini disertai dengan peningkatan
serupa dalam jumlah bisnis, resor (tempat rekreasi), dan negara yang
menyediakan fasilitas bagi para turis.
Banyak Negara Memasuki
Pasar Wisata
Idealnya, pariwisata adalah bisnis ’semua-pihak-untung’.
Konsumen meninggalkan rutin normalnya dan dimanja, dihibur, atau dididik.
Namun, apa untungnya bagi penyedia jasa wisata? Pariwisata internasional adalah
penghasil mata uang asing. Kebanyakan negara membutuhkan mata uang asing untuk
membeli barang dan jasa yang harus mereka impor.
Sebenarnya, sebuah laporan WTO menyatakan, ”Pariwisata
internasional adalah penghasil devisa terbesar dunia dan merupakan faktor
penting dalam neraca pembayaran di banyak negara. Penerimaan devisa dari
pariwisata internasional mencapai 423 miliar dolar AS pada tahun 1996,
mengungguli ekspor produk minyak tanah, kendaraan bermotor, peralatan
telekomunikasi, tekstil maupun barang atau jasa lainnya”. Laporan yang sama
menyatakan, ”Pariwisata adalah industri yang paling berkembang pesat di dunia,”
dan industri itu menyumbang hingga ”10 persen Produk Domestik Bruto dunia”.
Tidak heran apabila kebanyakan negara, sekarang bahkan mencakup beberapa negara
bekas Uni Soviet, ikut dalam—atau bergegas memasuki—industri pariwisata
internasional.
Pajak pemerintah yang didapat dari pariwisata
digunakan untuk memperbaiki infrastruktur, memungkinkan standar pendidikan yang
lebih tinggi, dan memenuhi kebutuhan nasional lainnya yang mendesak. Hampir
semua pemerintahan ingin warganya mempunyai pekerjaan. Pekerjaan yang
dihasilkan oleh pariwisata memenuhi kebutuhan itu.
Untuk memperlihatkan dampak pariwisata
terhadap ekonomi sebuah negara, perhatikan contoh Kepulauan Bahama, negara
kepulauan kecil yang terbentang di sepanjang muara Teluk Meksiko antara
Florida, di Amerika Serikat, dan Pulau Kuba. Bahama tidak memiliki agrikultur
komersial berskala besar dan hampir tidak memiliki bahan mentah untuk industri.
Tetapi, kepulauan ini memiliki cuaca yang hangat, pantai tropis yang bersih,
populasi yang hanya berjumlah kira-kira seperempat juta orang yang ramah, dan
letak yang dekat dengan Amerika Serikat—aset-aset yang bersama-sama
menghasilkan industri pariwisata yang berkembang. Namun, apa yang dibutuhkan
untuk menyediakan liburan yang menyenangkan dan aman bagi para turis?
Memuaskan Para Wisatawan
Modern
Sewaktu pariwisata internasional dimulai,
pengalaman mengunjungi negeri asing jarang memuaskan banyak pelancong—padahal
perjalanan pada saat itu tidak mudah. Akan tetapi, dewasa ini, komunikasi massa
memungkinkan banyak orang menilik dahulu tempat tujuan yang jauh melalui televisi
tanpa harus meninggalkan rumah. Dengan demikian, tempat-tempat rekreasi kini
tertantang untuk membuat kunjungan menjadi pengalaman nyata yang menyenangkan
seraya menyediakan kenyamanan seperti di rumah sendiri atau bahkan yang lebih
baik. Selain itu, karena ada banyak turis yang sering berwisata, tempat-tempat
tujuan di dunia sering kali saling bersaing.
Hal ini telah menghasilkan atraksi dan
resor-resor yang spektakuler. Misalnya, perhatikan sebuah hotel mewah yang
sangat besar di Bahama. ”Properti ini telah dirancang untuk menjadikan
pengalaman Anda benar-benar tak terlupakan,” kata Beverly Saunders, direktur
pengembangan organisasi di hotel itu. ”Tapi, bukan itu saja tujuan kami. Kami
ingin interaksi Anda dengan warga kami juga menjadikan pengalaman liburan Anda
tak terlupakan.” Bagaimana resor-resor demikian memuaskan kebutuhan para
tamunya?
Di balik Penampilan
Sebuah Resor
”Apabila ke-2.300 kamar kami penuh, berarti
kami memiliki antara 7.500 dan 8.000 tamu untuk dipuaskan sekaligus,” kata
Beverly. ”Perencanaan dan implementasinya merupakan tantangan besar.
Pengorganisasian yang dituntut untuk memuaskan kebutuhan semua tamu ini sama
dengan mengoperasikan sebuah kota kecil tetapi masih ditambah lagi dengan
tantangan lain. Kami harus menyediakan makanan yang biasa disantap tamu-tamu
kami di kampung halaman mereka. Tetapi, jika ingin agar pengalaman mereka
berkesan, kami juga harus menawarkan santapan yang eksotis dan berbagai bentuk
rekreasi. Di banyak resor, 50 persen atau lebih personel pelayanan tamu
dikhususkan untuk menyediakan makanan dan minuman.”
Namun, seperti yang dikatakan I. K. Pradhan
dalam esainya yang berjudul ”Dampak Sosio-Kultural Pariwisata di Nepal”, ”dari
semua faktor penentu kesenangan dan kenikmatan yang sesungguhnya sewaktu
bepergian, tidak ada faktor lain yang lebih penting daripada cara para tamu
diperlakukan oleh warga setempat dan perasaan aman yang mereka alami”.
Bagaimana resor turis yang sukses di seputar
dunia memaksimalkan kepuasan di bidang-bidang ini? ”Melatih, memantapkan
perilaku yang diinginkan, mengoreksi—perjuangan yang tak habis-habisnya untuk
memberikan pelayanan bermutu tinggi secara konsisten”, adalah jawaban seorang
eksekutif yang mengawasi pelatihan untuk resor terkemuka di Bahama. ”Kebanyakan
orang Bahama pada dasarnya baik-baik. Tetapi, sangat sulit untuk menjadi ramah,
menyenangkan, dan selalu tersenyum pada waktu bekerja. Itulah sebabnya, saya
selalu menanamkan dalam diri mereka perlunya menyikapi peranan apa pun yang
mereka mainkan secara profesional seperti para dokter, pengacara, atau agen
asuransi menyikapi peranan mereka. Kami menggunakan standar internasional yang
ketat untuk setiap fungsi yang membentuk keseluruhan pengalaman sang turis.
Semakin keras kami bekerja sebagai satu tim untuk mencapai standar ini, level
performa akan semakin mulus dan tinggi secara konsisten.”
Sisi Lain Situasinya
Jika Anda pernah berwisata, apakah Anda
mendapati bahwa meskipun sudah direncanakan masak-masak, tampaknya selalu ada
pengeluaran-pengeluaran yang tak terduga? Penyedia wisata juga mengalami hal
itu.
”Industri pariwisata dapat mendatangkan
banyak manfaat bagi masyarakat kita yang sedang berkembang,” kata Pradhan, yang
dikutip sebelumnya. Akan tetapi, ia mendapati bahwa tanpa langkah-langkah yang
tepat, ”problem sosial yang tak tersembuhkan juga dapat muncul”. Ia
menambahkan, ”[Kita] perlu mempersiapkan diri baik-baik disertai cukup
kesadaran tentang berbagai dampak pariwisata modern.” Problem apa yang ia
maksudkan?
”Negara yang melayani sejumlah besar turis
hampir selalu mengalami kemerosotan yang serius dan tak terduga dalam gaya
hidup tradisional mereka. Di beberapa tempat, budaya setempat telah lenyap.”
Inilah yang digambarkan oleh Cordell Thompson, seorang pejabat tinggi
Kementerian Pariwisata Kepulauan Bahama, sebagai salah satu efek sampingan yang
biasa terjadi. Thompson berbangga atas semua keuntungan yang dihasilkan
pariwisata di negaranya. Namun, ia mengakui bahwa tinggal di sebuah negeri yang
jumlah wisatawannya selalu melampaui—atau hampir sebanyak—jumlah penduduk telah
menghasilkan banyak efek yang tak terduga lainnya.
Sebagai contoh, beberapa orang yang bekerja
dengan turis mendapati bahwa pada akhirnya mereka mulai membayangkan, secara
keliru, bahwa sang pengunjung itu senantiasa berlibur. Warga setempat bisa
mencoba meniru gaya hidup yang dibayangkan ini. Yang lain tidak terpengaruh
dengan cara seperti itu. Namun, dengan menghabiskan begitu banyak waktu luang
mereka di kawasan rekreasi wisatawan, pada akhirnya mereka menanggalkan gaya
hidup tradisional mereka. Kadang-kadang, fasilitas yang dibangun untuk para
turis menjadi begitu diterima oleh warga sehingga pusat-pusat kebudayaan
masyarakat setempat pada akhirnya memudar dan, di beberapa tempat, mati.
Banyak tempat tujuan wisatawan internasional
yang populer menghadapi dilema seperti ini. Mereka senang menerima pendapatan
yang menguntungkan dari arus pengunjung. Namun, mereka terbebani dengan
problem-problem sosial yang ditimbulkan oleh industri-industri yang diciptakan
guna memenuhi permintaan turis untuk memenuhi hasrat yang terlarang.
Pariwisata Lestari
Karena beberapa manfaat terbesar dari
pariwisata modern menghasilkan efek yang mengancam kelangsungannya sendiri,
ungkapan yang semakin sering terdengar adalah ”pariwisata lestari”. Hal itu
memperlihatkan bahwa beberapa pihak mulai sadar bahwa manfaat jangka pendek
dari praktek pariwisata yang menguntungkan bisa-bisa menghancurkan sumber
keuntungannya sendiri. Ada beberapa permasalahan sulit yang harus diatasi jika
industri ini hendak dilestarikan untuk seterusnya.
Efek pariwisata terhadap lingkungan,
dampaknya terhadap budaya asli setempat, keseiringan target dari resor dan
megaresor yang berorientasi pada profit dengan tujuan nasional negara tuan
rumah—hal-hal ini adalah beberapa permasalahan yang sering kali bermunculan
yang harus diseimbangkan di masa-masa mendatang. Pada bulan-bulan terakhir ini,
permasalahan keamanan cukup merugikan industri perjalanan, dan permasalahan ini
pada akhirnya harus diatasi. Bagaimana hal ini akan mempengaruhi pertumbuhan
pariwisata modern dalam jangka panjang masih belum terjawab sekarang.
Jika kali lain Anda memutuskan untuk melepas
ketegangan rutin sehari-hari dan bersantai di sebuah resor yang jauh dari
tempat tinggal Anda, Anda mungkin tidak akan menyepelekan industri global ini—pariwisata
nasional dan internasional.
Source : Wachtower library 2011 edisi sedarlah tahun 2002
Langganan:
Komentar (Atom)














