Rabu, 20 Maret 2013

When “Little Brother” Comes Home

EACH spring, after seven or eight months of nomadic life at sea, the puffin returns to its home in Arctic waters. It is breeding season, and the puffin seems to be dressed up for the occasion. Indeed, its feet have turned bright orange, and its bill has grown a colorful plate, which is later shed. The distinct black-and-white plumage remains year round, and this gives the puffin a somewhat clerical appearance. Perhaps this explains the Atlantic puffin’s scientific name Fratercula arctica, which means “little friar, or brother, of the north.”*
Puffins head for their cliffside burrows in small groups called rafts, each of which comprises about 20 or 30 birds. Either during the journey or upon reaching the burrow, the puffin will find its mate. Interestingly, many puffins keep the same burrow—and the same mate—year after year.
Puffins can fly, but they are clearly not the world’s greatest “aviators.” Indeed, their arrival on shore can resemble a crash landing! Furthermore, the puffin’s takeoff is somewhat clumsy, and at times it seems that the bird’s wings will not support its stout body. Some puffins even have trouble getting out of the water. But once those wings are beating—and they may beat as rapidly as 400 times a minute—the puffin can achieve a cruising speed of 50 miles [80 km] per hour.
Puffins are obviously more comfortable at sea than on land. But come to land they must, for a puffin couple will have to prepare a burrow for their young. Upon reaching land, a couple will clean the burrow, which may measure anywhere from 20 inches [50 cm] in length to about four times that size. They line the burrow with bedding consisting of grass, twigs, and feathers. Some puffins nest in cracks under boulders or in rocky crevices. Using its bill, the puffin picks its way through dirt and then shovels the dirt away with its webbed feet.
The courtship of the puffin couple takes place in the water. During the ceremony the males flick their heads, puff up their chests, and flutter their wings, and the couples repeatedly tap bills. This last ritual, called billing, continues even after mating. It appears to be the couple’s way of affirming a mutual bond.
After an egg is laid, it is literally taken under the parents’ wings—a responsibility shared by father and mother. Six weeks later, when the chick hatches, the real work begins. The gray-black, soft, down-covered hatchling is brooded for a week to help it maintain its body temperature. The parent puffins make an increasing number of trips to the sea to secure enough food for their chick. The fishing expeditions are not too dangerous, since there are so many puffins going out to sea and back to the burrows. It seems that the flurry of activity makes it difficult for gulls and other predators to attack.
Puffins are expert swimmers and divers. Using their webbed feet as rudders and their wings to propel themselves, they can remain underwater for more than 30 seconds, at depths reaching nearly a hundred feet [30 m]. A puffin may return home with one or two small fish—perhaps capelins or sand lances—in its bill. Of course, the smaller the fish, the more the puffin can hold in its beak. One was observed with a catch of more than 60! Backward-pointing spines in its mouth enable the puffin to hold fish in place while more are being caught. This is a good thing, considering that a baby puffin can eat 50 fish a day.
After about six weeks, the parent puffins head back to sea. The fledgling puffin, now left on its own, slims down in preparation for leaving the burrow. In the evenings it does wing exercises. Finally, under cover of darkness, the puffin tumbles down to the sea and vigorously paddles away.
Two to three years will elapse before the young puffin returns to its place of birth, and it will be four or five years old before it mates. The mature puffin will perhaps weigh a bit over a pound [490 g] and stand only about 12 inches [30 cm] high. Even though it is relatively small, a healthy puffin can live for about 25 years. One Atlantic puffin survived to the ripe old age of 39!
Experts estimate the Atlantic puffin population to be 20 million. These birds are fascinating to watch. “Even in the most ordinary things the puffin is entertaining,” wrote David Boag and Mike Alexander in their book The Atlantic Puffin. And if you live near the northern shores of the Atlantic or the Pacific, perhaps you will see one. In any event, one thing is certain—each spring, “little brother of the north” will come home, and a new generation of dark-feathered seabirds will be born.

Source : Wachtower library 2011

What Has Been the Impact on the Island?

The new bridge stands as a symbol of progress. For some, however, it leaves unanswered questions about the future. Even now, seven years after its inauguration, it is too early to predict what the overall impact of the bridge will be, especially on the environment. In 2002 a lobster scientist reported that the bridge did not seem to have affected the lobster population. He also said: “The last five years have been the best for rock crab.” How has tourism been affected?
During a recent period, tourism increased by “a whopping 61 per cent,” says one report. Of course, most tourists come during the summer season. In addition, between 1996 and 2001, exports almost doubled. Employment also improved. On the negative side, many of those who were employed by the former ferry service are earning far less. Another complaint made by some is the high toll price. But then, as some might say, progress has its price.
Has easier access to the mainland changed the charm of the island? Some who come “from away” to enjoy the tranquillity of the island may wonder if they can still find an escape from the hectic pace of the mainland in the unspoiled landscape and sand dunes of Abegweit, the “cradle in the waves,” as the native Micmac people called it.
Truly, the Confederation Bridge is a most impressive achievement. Do drivers tend to fall asleep at the wheel during their short drive? Hardly. The elongated S design helps them stay alert to enjoy the experience. Perhaps this bridge will give you added incentive to come visit this “Garden of the Gulf” and taste its still peaceful way of life, whether you appreciate Anne of Green Gables or not.

Source : Wachtower library 2011

Eksploitasi Seksual atas Anak-Anak—Problem Seluas Dunia

Masyarakat manusia sedang diguncang oleh bentuk penganiayaan yang mengejutkan atas anak-anak yang berlangsung dalam ruang lingkup dan sifat yang tidak dikenal luas sebelumnya sampai tahun-tahun belakangan ini. Untuk melihat apa yang dapat dilakukan mengenai hal itu, wakil-wakil dari 130 negara berkumpul di Stockholm, Swedia, dalam Kongres Sedunia Menentang Eksploitasi Seksual Komersial atas Anak-Anak yang pertama. Koresponden Sedarlah! di Swedia juga hadir di sana.
KETIKA Magdalen berusia 14 tahun, ia dibujuk untuk bekerja sebagai ”pramuria” bar di Manila, Filipina. Padahal, pekerjaannya termasuk membawa para tamu pria ke sebuah kamar yang sempit dan menelanjangi tubuhnya untuk dieksploitasi secara seksual oleh pria-pria itu—rata-rata 15 pria setiap malam dan 30 pria pada hari Sabtu. Kadang-kadang, sewaktu ia mengatakan tidak sanggup lagi, manajernya akan memaksanya untuk terus bekerja. Ia sering kali selesai bekerja pada pukul empat pagi, dengan perasaan lesu, depresi, dan sengsara.
Sareoun adalah bocah lelaki jalanan yang yatim piatu di Phnom Penh, Kamboja. Ia mengidap sifilis dan terkenal suka ’berkencan’ dengan orang-orang asing. Ia diberi tempat tinggal di sebuah pagoda, tempat ia semestinya ’dirawat’ oleh seorang bekas biarawan. Akan tetapi, pria ini menganiaya anak lelaki itu secara seksual dan memaksanya berhubungan seks dengan orang-orang asing. Sewaktu tempat tinggal Sareoun di pagoda hancur, ia mulai tinggal dengan bibinya tetapi masih dipaksa untuk bekerja di jalanan.
Ini hanyalah dua contoh dari problem yang mengerikan yang dibahas pada akhir tahun lalu dalam Kongres Sedunia Menentang Eksploitasi Seksual Komersial Atas Anak-Anak. Seberapa luaskah praktek ini menyebar? Ratusan ribu anak terlibat—bahkan, menurut beberapa pihak jumlahnya jutaan. Seorang delegasi meringkaskan problemnya, ”Anak-anak diperjualbelikan sebagaimana layaknya komoditi seksual dan ekonomi. Mereka diperdagangkan di dalam negeri dan menyeberangi perbatasan seperti barang selundupan, dikurung dalam rumah-rumah bordil dan dipaksa menyerahkan diri kepada sejumlah besar pengeksploitasi seks.”
Dalam kata-kata pembukaannya untuk pertemuan itu, perdana menteri Swedia, Göran Persson, mencap eksploitasi ini sebagai ”kategori kejahatan yang paling brutal, paling biadab dan menjijikkan”. Seorang wakil dari Perserikatan Bangsa-Bangsa menyebut itu ”adalah penyerangan dari segala penjuru atas anak-anak . . . , benar-benar keji dan adalah pelanggaran yang paling hina atas hak-hak asasi manusia yang dapat dibayangkan”. Banyak pernyataan kegusaran yang serupa terhadap eksploitasi seksual atas anak-anak disuarakan dari forum sepanjang berlangsungnya kongres seraya ruang lingkup, sifat, penyebab, dan dampak dari hal tersebut diulas.
”Ruang lingkupnya transnasional, dampaknya transgenerasi (mencakup generasi berikutnya),” demikian salah satu sumber menyatakan. Dokumen lain menyatakan, ”Dipercayai bahwa sekitar 1 juta anak memasuki pasar seks ilegal bernilai miliaran dolar setiap tahunnya.” Apa dampaknya? ”Perasaan harga diri, identitas, dan kepercayaan diri pada anak-anak dirongrong dan kapasitas mereka untuk menaruh kepercayaan menjadi tumpul. Kesehatan fisik dan emosi mereka dipertaruhkan, hak-hak mereka dilanggar dan masa depan mereka berada dalam bahaya.”
Beberapa Penyebab
Apa saja penyebab-penyebab dari ledakan pertumbuhan problem ini? Dinyatakan bahwa beberapa anak ”terpaksa masuk ke dalam pelacuran karena keadaan, sebagai jalan untuk bertahan hidup di jalanan, membantu menafkahi keluarga mereka, atau untuk membeli pakaian dan barang-barang. Yang lain-lain terbujuk oleh serangan gencar dari sosok konsumen dalam media periklanan”. Sedangkan anak-anak lain diculik dan dipaksa untuk dijadikan pelacur. Terkikisnya nilai-nilai moral dengan hebat di mana-mana, serta perasaan keputusasaan yang umum, juga disebut sebagai penyebabnya.
Banyak anak perempuan dan anak lelaki terjerumus dalam perdagangan seks karena penganiayaan oleh keluarga—kekerasan dan inses di rumah memaksa mereka melarikan diri ke jalanan. Di sana, mereka menghadapi risiko dianiaya oleh para pedofilia dan yang lain, bahkan, tampaknya, oleh beberapa polisi. Sebuah laporan sehubungan dengan problem itu yang berjudul Kids for Hire menceritakan mengenai Katia yang berusia enam tahun, di Brasil. Sewaktu ia ditangkap oleh seorang polisi, sang polisi memaksanya melakukan tindakan yang tidak senonoh dan mengancam membunuh keluarga Katia bila Katia melaporkan kepada atasannya. Keesokan harinya polisi tersebut kembali bersama lima pria lain, semuanya ingin Katia memberikan jasa seksual yang sama kepada mereka.
Children’s Ombudsman, sebuah yayasan Swedia, memberi tahu para delegasi, ”Apabila diadakan penelitian sehubungan dengan penyebab pelacuran anak-anak, tidak diragukan bahwa wisata [seks] merupakan salah satu penyebab utamanya.” Sebuah laporan mengatakan, ”Peningkatan yang luar biasa dari pelacuran anak-anak selama sepuluh tahun terakhir merupakan akibat langsung dari bisnis wisata. Pelacuran anak-anak merupakan atraksi pariwisata terbaru yang ditawarkan oleh negara-negara berkembang.” ”Wisata seks” dari Eropa, Amerika Serikat, Jepang, dan tempat-tempat lain menciptakan permintaan yang besar akan pelacur anak-anak di seluruh dunia. Sebuah perusahaan penerbangan Eropa menggunakan gambar kartun seorang anak dalam pose yang eksplisit secara seksual untuk mempromosikan wisata seks. Biro-biro perjalanan mengatur wisata seks untuk ribuan orang setiap tahun.
Yang juga berada dalam daftar panjang penyebabnya adalah promosi industri seks anak-anak secara internasional melalui teknologi baru. Internet, bersama teknologi komputer lain yang terkait, dilaporkan menjadi sumber pornografi tunggal terbesar. Demikian pula, peralatan video dengan harga yang murah telah memudahkan produksi pornografi anak-anak.
Siapakah Mereka?
Banyak dari antara orang dewasa yang menganiaya anak-anak secara seksual adalah para pedofilia. Seorang pedofilia memiliki ketertarikan seksual yang menyimpang kepada anak-anak. Menurut Children’s Ombudsman dari Swedia, ”mereka tidak selalu pria-pria yang berumur dan lusuh yang mengenakan jas hujan atau tipe macho yang penuh kekerasan. Umumnya seorang pedofilia adalah pria setengah baya yang berpendidikan baik, sering kali bekerja dengan anak-anak sebagai guru, dokter, pekerja sosial atau seorang imam”.
Kelompok asal Swedia itu menyoroti contoh Rosario, seorang gadis asal Filipina berusia 12 tahun yang dianiaya secara seksual oleh seorang turis seks yang adalah dokter asal Austria. Penganiayaan sang dokter mengakibatkan kematian Rosario.
Carol Bellamy, direktur eksekutif dari UNICEF (Dana Anak-Anak Internasional PBB) di Jenewa, menyatakan sebagai berikut sehubungan dengan gadis asal Filipina berusia 12 tahun itu, ”Sering kali justru orang dewasa yang dipercayakan merawat dan melindungi anak-anak yang mengizinkan dan melestarikan praktek yang tidak dapat ditoleransi ini. Termasuk di antaranya adalah guru, pakar kesehatan, petugas polisi, politisi, dan anggota pemimpin agama yang memanfaatkan prestise dan wewenang mereka untuk mengeksploitasi anak-anak secara seksual.”
Agama Terlibat
Seorang delegasi dari Gereja Katolik Roma di kongres Stockholm menyatakan bahwa eksploitasi anak-anak adalah ”kejahatan yang paling menjijikkan” dan merupakan ”akibat dari penyimpangan yang teramat dalam serta hancurnya norma-norma”. Meskipun demikian, Gereja Katolik telah dipengaruhi secara hebat oleh praktek-praktek semacam itu yang berlangsung di antara para pemimpin agamanya sendiri.
Dalam terbitan Newsweek tertanggal 16 Agustus 1993, sebuah artikel berjudul ”Priests and Abuse” (”Imam dan Penganiayaan”) melaporkan ”skandal terburuk dari pemimpin agama dalam sejarah modern Gereja Katolik AS”. Laporan itu menyatakan, ”Sementara tuduhan-tuduhan yang tidak terbukti kebenarannya telah diajukan terhadap kira-kira 400 imam sejak tahun 1982, beberapa pemimpin agama memperkirakan bahwa sebanyak 2.500 imam telah menganiaya anak-anak atau remaja secara seksual. . . . Selain menghabiskan uang, skandal itu telah sangat mempermalukan pihak gereja—dan mengancam beberapa dari wewenang moralnya.” Agama-agama lain di seluruh dunia berada dalam situasi yang sama.
Ray Wyre, seorang konsultan kejahatan seks asal Inggris, memberi tahu kongres Stockholm tentang dua anak lelaki yang dianiaya secara sadis oleh seorang imam. Salah seorang anak lelaki itu sekarang mengelola sebuah yayasan bagi anak-anak korban penganiayaan seksual oleh para imam, sedangkan anak yang lain menjadi penganiaya.
Mettanando Bhikkhu, seorang sarjana Buddhisme dari Thailand, melaporkan bahwa ”beberapa jenis praktek Buddhisme ikut bertanggung jawab atas eksploitasi seksual atas anak-anak secara komersial di Thailand hingga taraf tertentu. Di desa-desa setempat di Thailand, para biarawan adakalanya memperoleh keuntungan dari uang yang dibawa ke masyarakat oleh anak-anak yang dipaksa ke dalam pelacuran”.
Apa yang Dapat Dilakukan?
Dr. Julia O’Connell Davidson, dari Leicester University di Inggris, mengimbau kongres untuk memerangi tindakan membenarkan diri dari para pengeksploitasi sehubungan dengan perilaku mereka. Para penganiaya sering kali menyorot kepada apa yang dianggap sebagai kelonggaran seksual dan perbuatan amoral yang dilakukan si anak, dengan berpendapat bahwa anak itu memang sudah kotor dan tak bernilai. Pengeksploitasi lain menggunakan pernyataan yang diputarbalikkan dan palsu bahwa tidak ada bahaya yang akan diakibatkan oleh tindakan mereka dan bahwa sang anak mendapat manfaat.
Sebuah panel yang membahas tentang wisata seks merekomendasikan untuk memeranginya melalui pendidikan dalam kurikulum sekolah. Selain itu, informasi yang menentang eksploitasi seksual atas anak-anak seharusnya menjangkau para pelancong selama seluruh perjalanan wisata—sebelum berangkat, selama perjalanan, dan di tempat tujuan.
Sehubungan dengan teknologi komunikasi yang baru, sebuah panel menyarankan agar bangsa-bangsa seharusnya diperlengkapi dengan pedoman untuk menyingkirkan bahan-bahan yang mengeksploitasi anak-anak. Pembentukan sebuah lembaga tunggal internasional untuk mengkoordinasi kegiatan dalam bidang ini dipertimbangkan. Panel lain merekomendasikan agar pornografi anak yang dihasilkan oleh komputer dan agar kepemilikan pornografi anak secara umum seharusnya dinyatakan sebagai pelanggaran pidana di semua negara, dengan hukuman yang ditetapkan oleh undang-undang.
Apa yang dapat dilakukan orang-tua? Sebuah panel yang membahas peranan media menyarankan agar orang-tua bertanggung jawab untuk melindungi anak-anak mereka. Panel itu menyatakan, ”Orang-tua bukan hanya membimbing anak-anak seraya mereka berkembang menjadi konsumen media melainkan harus menyediakan informasi tambahan, penjelasan, dan sumber informasi yang beraneka ragam untuk mengimbangi dampak dari media serta membantu sang anak bertumbuh dalam pemahaman.”
Sebuah program TV Swedia yang meliput kongres itu menekankan perlunya orang-tua mengawasi anak-anak mereka dengan lebih baik lagi dan membuat mereka tanggap terhadap bahaya. Akan tetapi, program itu menyarankan, ”Jangan hanya memperingatkan anak-anak terhadap ’pria tua yang berpikiran kotor’, karena anak-anak . . . dengan demikian berpikir bahwa yang mereka harus waspadai hanyalah pria yang berumur dan lusuh, sementara pelaku kejahatan semacam itu boleh jadi adalah yang berseragam atau yang berpakaian rapi. Oleh karena itu, peringatkan mereka terhadap orang-orang asing yang memperlihatkan minat yang ganjil kepada mereka.” Tentu saja, anak-anak hendaknya juga diperingatkan—dan didesak untuk melaporkan kepada orang-orang yang berwenang—siapa pun yang melakukan pendekatan yang tidak pantas kepada mereka, termasuk orang-orang yang mereka kenal.
Jalan Keluar Satu-satunya
Yang tidak dapat disarankan oleh kongres Stockholm adalah caranya mengatasi penyebab eksploitasi seksual atas anak-anak. Ini termasuk terkikisnya nilai-nilai moral dengan hebat di mana-mana; meningkatnya sikap mementingkan diri dan hasrat akan perkara-perkara materi; berkembangnya sikap tidak respek kepada undang-undang yang dibuat untuk melindungi orang-orang dari ketidakadilan; meningkatnya ketidakpedulian akan kesejahteraan, harga diri, dan kehidupan orang lain; kehancuran lembaga keluarga; penyebarluasan kemiskinan akibat ledakan penduduk, pengangguran, urbanisasi, dan migrasi; bertumbuhnya rasisme terhadap orang-orang asing dan pengungsi; produksi dan perdagangan obat bius yang terus bertumbuh; serta rusaknya pandangan, praktek, dan tradisi agama.
Meskipun eksploitasi seksual atas anak-anak adalah hal yang mengejutkan, keburukan semacam ini tidak mengherankan bagi para pembaca Alkitab yang saksama. Mengapa demikian? Karena kita sekarang hidup dalam apa yang Alkitab sebut ”hari-hari terakhir” dan, menurut Firman Allah, sekaranglah ”masa kritis yang sulit dihadapi”. (2 Timotius 3:1-5, 13) Jadi apakah mengherankan bahwa moralitas telah berubah dari buruk menjadi lebih buruk lagi?
Akan tetapi, Alkitab seterusnya menunjukkan jalan keluar satu-satunya bagi problem dunia yang luar biasa—pembersihan secara menyeluruh oleh Allah Yang Mahakuasa. Ia segera akan memanifestasikan kekuasaan-Nya dan menyingkirkan semua orang di bumi yang tidak menaati prinsip dan hukum-Nya yang adil-benar, ”Orang jujurlah akan mendiami tanah, dan orang yang tak bercelalah yang akan tetap tinggal di situ, tetapi orang fasik akan dipunahkan dari tanah itu.”—Amsal 2:21, 22; 2 Tesalonika 1:6-9.
Orang-orang yang ”dipunahkan” akan termasuk semua yang melacurkan anak-anak dan orang-orang bejat yang menyalahgunakan anak-anak. Firman Allah menyatakan, ”Orang yang melakukan percabulan . . . ataupun pezina . . . ataupun pria yang berbaring dengan pria [atau anak lelaki] . . . tidak akan mewarisi kerajaan Allah.” (1 Korintus 6:9, 10) Alkitab menambahkan bahwa ”mereka yang menjijikkan dalam kekotoran mereka . . . dan orang-orang yang melakukan percabulan” akan diserahkan kepada ”kematian kedua”—kebinasaan kekal.—Penyingkapan 21:8.
Allah akan membersihkan bumi dan mendatangkan sistem perkara yang sepenuhnya baru dan adil, ”langit baru dan bumi baru”. (2 Petrus 3:13) Kemudian, dalam dunia baru ciptaan-Nya itu, orang-orang yang bejat dan menyimpang tidak akan pernah lagi menarik keuntungan dari orang-orang yang tidak bersalah. Dan orang-orang yang tidak bersalah tidak pernah lagi harus takut menjadi korban, karena ”tidak akan ada orang yang membuat mereka gemetar”.—Mikha 4:4, NW.

Source : Wachtower library 2011 edisi sedarlah tahun 1997

Air bagi Turis?

”Banyak tempat rekreasi di dunia berupaya keras mengatasi arus turis, yang karena menuntut lebih banyak kolam renang dan lapangan golf, justru menyedot persediaan air di tempat rekreasi tersebut,” lapor The Guardian di London. ”Permasalahan itu bersifat luas dan global,” kata Tricia Barnett dari Tourism Concern. ”Kadang-kadang, Anda mendapati sebuah kampung [di Afrika] dengan satu keran saja, sedangkan setiap hotel mempunyai keran dan pancuran air di semua kamar.” Sebuah organisasi konservasi global menghitung bahwa seorang turis di Spanyol menggunakan 880 liter air per hari, sedangkan seorang penduduk setempat hanya menggunakan 250 liter air. Sebuah lapangan golf 18-hole di sebuah negeri yang kering bisa membutuhkan air sebanyak yang dibutuhkan oleh sebuah kota yang berpenduduk 10.000 orang. Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) PBB memperkirakan bahwa air yang digunakan 100 turis dalam 55 hari akan cukup menghasilkan beras untuk makanan 100 penduduk desa selama 15 tahun.

Source : Wachtower library 2011 edisi sedarlah tahun 2002

”Majikan Nomor Satu di Dunia”



Setiap tahun, lebih dari 600 juta orang bepergian ke luar negeri. Ratusan juta lainnya mengadakan perjalanan di dalam negeri untuk urusan bisnis atau rekreasi. Alhasil, industri pariwisata—termasuk hotel, resor, maskapai penerbangan, agen perjalanan, dan bisnis lain yang melayani orang yang bepergian—digambarkan sebagai ”majikan nomor satu di dunia”.
DI SELURUH DUNIA, pariwisata menghasilkan kira-kira empat triliun dolar AS setiap tahun. Secara perorangan, para turis atau wisatawan mungkin tidak merasa dirinya tergabung dalam suatu gerakan perdamaian sedunia, namun demikianlah industri ini digambarkan oleh Organisasi Pariwisata Dunia PBB. Pada tahun 2004, Francesco Frangialli, sekretaris jenderal organisasi itu, memberi tahu suatu konferensi tingkat presiden di Timur Tengah, ”Pariwisata dan perdamaian saling berkaitan. Pengaruh pariwisata sebegitu kuatnya sehingga dapat mengubah situasi yang tampaknya tidak dapat diperbaiki dan mewujudkan rekonsiliasi yang sebelumnya dianggap mustahil.”
Bagaimana asal mula industri yang berpengaruh ini? Apakah pariwisata benar-benar bermanfaat? Dan, dapatkah ’pengaruh kuat pariwisata’ benar-benar menghasilkan perdamaian?
Masa Keemasan Pariwisata
Benih-benih industri pariwisata modern di negeri-negeri Barat ditabur khususnya pada abad ke-19. Seraya revolusi industri meningkatkan jumlah kelas menengah di Eropa dan Amerika Serikat, semakin banyak orang memiliki uang dan waktu untuk mengadakan perjalanan.
Selain itu, kemajuan-kemajuan besar dibuat dalam sarana transportasi massal. Kereta api kuat membawa penumpang ke kota-kota besar, dan kapal uap dengan cepat mengantar mereka ke benua-benua lain. Guna melayani kebutuhan semakin banyak orang yang mengadakan perjalanan, hotel-hotel besar menjamur di dekat stasiun dan pelabuhan.
Pada tahun 1841, pengusaha Inggris bernama Thomas Cook melihat peluang bisnis dengan memadukan kedua elemen ini. Dialah orang pertama yang menggabungkan transportasi, akomodasi, dan kegiatan di lokasi yang diinginkan menjadi sebuah paket wisata liburan. ”Berkat sistem yang dibuat oleh Tuan Cook,” tulis negarawan Inggris William Gladstone pada tahun 1860-an, ”semua golongan untuk pertama kalinya mendapatkan kemudahan untuk bepergian ke negeri asing dan dapat mengenalnya sehingga mereka menyukainya, bukan meremehkannya.”
Lonjakan pada Abad Ke-20
Sayang sekali, meskipun pariwisata membuat orang-orang semakin mengenal orang asing, hal itu tidak mencegah pecahnya dua perang dunia selama paruh pertama abad ke-20. Namun, bukannya menghancurkan pariwisata, perubahan sosial dan kemajuan teknologi yang dihasilkan oleh kedua perang itu justru mempercepat pertumbuhan industri ini.
Perjalanan udara menjadi lebih cepat dan lebih murah, jalan-jalan raya menyebar melintasi benua, dan kendaraan bermotor berlipat ganda. Pada pertengahan abad ke-20, perjalanan liburan dan wisata menjadi bagian yang diterima dalam kebudayaan Barat dan tersedia bagi kebanyakan golongan masyarakat. Selain itu, jutaan keluarga memiliki televisi dan terpesona oleh gambar-gambar lokasi eksotis, yang menambah hasrat mereka untuk bepergian.
Pada awal 1960-an, jumlah turis internasional mencapai 70 juta setiap tahun. Menjelang pertengahan 1990-an, jumlah itu melesat menjadi lebih dari 500 juta! Di seluruh dunia, tempat rekreasi bermunculan untuk melayani turis internasional dan domestik. Industri-industri yang tidak secara langsung berkaitan dengan pariwisata pun meraup untung, karena para turis mengkonsumsi makanan dan minuman dalam jumlah besar dan menghabiskan uang untuk banyak barang dan jasa lain.
Dewasa ini, pariwisata penting bagi perekonomian lebih dari 125 negeri. Sewaktu menandaskan manfaat yang dapat dihasilkan pariwisata, sebuah pernyataan pers Organisasi Pariwisata Dunia PBB 2004 menjelaskan bahwa pariwisata dapat mengurangi kemiskinan dengan menciptakan bisnis pariwisata berukuran kecil dan sedang. Seraya pariwisata menciptakan lapangan kerja baru, ia dapat meningkatkan ”kesadaran orang akan lingkungan, kebudayaan, dan sosial”.
Namun, Anda mungkin bertanya, ’Bagaimana pariwisata bisa menghasilkan hal-hal tersebut? Dan, bagaimana hal itu dapat bermanfaat bagi lingkungan?’
Menjajakan Alam guna Menyelamatkannya
Pada awal tahun 1980-an, beberapa ilmuwan dan pembuat film semakin berminat untuk menyelamatkan hutan hujan dan terumbu koral serta makhluk-makhluk yang bergantung padanya. Laporan dan film dokumenter tentang alam yang dihasilkannya meningkatkan minat publik untuk mengunjungi keajaiban alam itu. Usaha-usaha kecil yang muncul untuk memenuhi kebutuhan para ilmuwan dan pembuat film diperluas untuk melayani arus wisatawan yang berminat pada ekologi.
Ekowisata, atau wisata alam, segera menjadi populer dan menjadi segmen yang paling cepat perkembangannya dalam industri pariwisata. Ya, mempromosikan keajaiban alam telah terbukti sangat menguntungkan. Jurnalis Martha S. Honey menjelaskan, ”Di beberapa negeri, wisata bernuansa alam telah berkembang pesat menjadi sumber devisa terbesar, menyaingi pisang di Kosta Rika, kopi di Tanzania dan Kenya, dan tekstil serta perhiasan di India.”
Dengan demikian, pariwisata telah menjadi suatu insentif finansial yang bernilai untuk menyelamatkan flora dan fauna. ”Di Kenya,” Honey menyatakan, ”diperkirakan bahwa seekor singa menghasilkan 7.000 dolar AS per tahun dari pariwisata, dan sekawanan gajah menghasilkan 610.000 dolar AS setiap tahun.” Terumbu koral Hawaii diperkirakan menghasilkan 360 juta dolar AS setiap tahun dari ekowisata!
Apa Sesungguhnya Ekowisata Itu
Laporan Program Lingkungan Hidup Perserikatan Bangsa-Bangsa yang berjudul Ecotourism: Principles, Practices and Policies for Sustainability berkata, ”Banyak agen perjalanan dan pariwisata dengan gampang menggunakan istilah ’ekowisata’ dalam selebaran mereka, dan pemerintah telah menggunakan istilah ini secara ekstensif untuk mempromosikan negeri mereka, tanpa mencoba mengimplementasikan satu pun prinsip-prinsip yang paling dasar [dari ekowisata].” Bagaimana Anda dapat menentukan apakah tur yang sedang Anda pertimbangkan benar-benar tergolong ekowisata?
Megan Epler Wood, penulis laporan di atas, mengatakan bahwa ekowisata yang baik harus memiliki fitur-fitur berikut: Sebelum perjalanan, menyediakan informasi tentang kebudayaan dan lingkungan yang akan dikunjungi serta panduan pakaian dan tingkah laku yang pantas; menyediakan penjelasan yang terperinci kepada para partisipan tentang karakteristik geografi, sosial, dan politik dari tempat tujuan dan kesempatan untuk berinteraksi dengan orang-orang setempat selain hanya untuk tujuan komersial; membayar lunas semua tiket masuk taman; dan menawarkan akomodasi yang ramah lingkungan.
Apa yang Telah Dicapai Ekowisata
Ekowisata sering kali bukan sekadar wisata yang terorganisasi ke sebuah lokasi alam. Kata itu telah didefinisikan sebagai ”perjalanan yang bertujuan ke kawasan-kawasan alami untuk memahami kebudayaan dan fakta-fakta sehubungan dengan flora dan fauna daerah tersebut, sambil berhati-hati agar tidak mengubah kesehatan ekosistem, sekaligus menghasilkan peluang bisnis yang membuat konservasi sumber daya alam bermanfaat bagi penduduk setempat”.
Apakah ekowisata telah mencapai prinsipnya yang begitu luhur itu? Martin Wikelski, dari Princeton University, berkata, ”Ekowisata merupakan salah satu faktor utama yang membuat [Kepulauan] Galapagos aman.” Di Rwanda, Afrika, promosi ekowisata yang sukses dianggap telah berhasil menyelamatkan populasi gorila gunung karena hal itu memberi penduduk setempat sumber penghasilan alternatif selain perburuan gelap. Di negeri-negeri Afrika lain, suaka margasatwa ditunjang oleh pengeluaran para turis.
Di seluruh dunia, ekowisata telah turut berperan dalam kemajuan lingkungan serta sosial, dan industri pariwisata tak dapat disangkal telah mendatangkan banyak keuntungan finansial. Namun, apakah industri ini selalu bermanfaat? Bagaimana prospek masa depan untuk mengelilingi dunia?

source : Wachtower library 2011 edisi sedarlah tahun 2005

Masa Depan Pariwisata



”Di hampir setiap negara di dunia ini, ada contoh-contoh yang memperlihatkan bahwa perkembangan pariwisata telah diakui sebagai biang keladi perusakan lingkungan.”—An Introduction to Tourism, karya Leonard J. Lickorish dan Carson L. Jenkins.
SELAIN mengancam lingkungan, pertumbuhan wisata bisa turut menimbulkan problem-problem lain. Mari kita ulas secara singkat beberapa di antaranya. Setelah itu, kita akan membahas kemungkinan di masa depan untuk menjelajahi bumi yang menakjubkan ini dan mempelajari keajaibannya, teristimewa penduduknya yang menyenangkan.
Masalah Lingkungan
Membeludaknya jumlah turis sekarang ini telah menimbulkan masalah. ”Di India, Taj Mahal mengalami kerusakan karena para pengunjung,” tulis peneliti Lickorish dan Jenkins, dan menambahkan, ”Di Mesir, piramida-piramida juga terancam oleh jumlah pengunjung yang sangat besar.”
Selain itu, para pengarang ini memperingatkan bahwa pariwisata yang tidak terkendali dapat mematikan atau menghambat pertumbuhan tanaman yang terinjak-injak oleh para pengunjung yang menyerbu cagar alam. Selain itu, spesies dapat terancam sewaktu turis mengoleksi benda-benda seperti kulit kerang dan koral langka atau sewaktu penduduk setempat mengumpulkannya untuk dijual kepada turis.
Para turis menciptakan polusi—rata-rata 1 kilogram limbah padat setiap hari per turis, menurut perkiraan Program Lingkungan Hidup PBB. Bahkan, tempat-tempat yang paling terpencil pun tampaknya juga terimbas. Belum lama ini, sebuah laporan dari Jaringan Aksi Perlindungan Hutan Hujan mengatakan, ”Di sepanjang rute yang sering dilalui para turis di Himalaya, sampah berserakan di jalan setapak dan hutan pegunungan telah dirusak para pelancong yang mencari bahan bakar untuk memanaskan makanan dan air mandi.”
Selain itu, turis sering kali mengkonsumsi sumber daya dalam jumlah yang tidak proporsional, yang seharusnya dinikmati penduduk setempat. Misalnya, James Mak menulis dalam bukunya Tourism and the Economy, ”Para turis di Grenada mengkonsumsi air tujuh kali lebih banyak daripada penduduk setempat.” Ia menambahkan, ”Secara langsung maupun tidak langsung, pariwisata menghabiskan 40 persen dari total energi yang dikonsumsi di Hawaii, meskipun rata-rata hanya satu dari delapan orang di Hawaii adalah turis.”
Meskipun para turis mungkin menghabiskan banyak uang untuk mengunjungi negara-negara berkembang, kebanyakan dana itu tidak dinikmati penduduk setempat. Bank Dunia memperkirakan bahwa hanya 45 persen dari pendapatan yang dihasilkan oleh pariwisata yang diterima negeri tuan rumah—kebanyakan uang mengalir kembali ke negara-negara maju melalui pengelola tur dari negeri lain dan hotel-hotel asing.
Dampak Sosial yang Buruk
Para turis Barat yang relatif kaya yang mengunjungi negara berkembang bisa memberikan pengaruh buruk terselubung—dan kadang-kadang tidak terlalu terselubung—terhadap kebudayaan setempat. Misalnya, para turis sering membawa barang-barang mahal agar bisa tinggal dengan nyaman. Bagi penduduk setempat, kemewahan seperti itu mungkin tak terbayangkan sebelumnya. Banyak penduduk setempat pun menginginkan barang-barang mahal seperti itu tetapi tidak sanggup membelinya kecuali gaya hidup mereka berubah—perubahan yang mungkin mencakup perilaku sosial yang merusak.
Mak menyebutkan problem-problem yang dapat muncul, dan berkata bahwa meningkatnya pariwisata dapat ”turut menghilangkan karakteristik unik kebudayaan dan komunitas, menciptakan konflik dalam masyarakat tradisional sehubungan dengan penggunaan tanah milik masyarakat serta sumber daya alam, serta meningkatkan kegiatan anti sosial, seperti kejahatan dan pelacuran”.
Sekarang ini, para turis sering merasa bebas untuk melakukan kegiatan yang segan mereka lakukan sewaktu mereka di rumah bersama keluarga dan teman. Akibatnya, perbuatan amoral para turis telah menjadi problem yang berdampak serius. Sewaktu menunjuk ke sebuah contoh terkenal, Mak berkata, ”Di seluruh dunia, semakin banyak pihak yang mengkhawatirkan dampak pariwisata terhadap pelacuran anak.” Pada tahun 2004, kantor berita CNN melaporkan, ”’Menurut perkiraan yang dapat dipercaya, ada 16.000-20.000’ anak yang menjadi korban seks di Meksiko, ’kebanyakan tinggal di daerah perbatasan, perkotaan, dan daerah wisata’.”
Manfaatnya Mengadakan Perjalanan
Bumi kita adalah rumah yang menakjubkan, yang senantiasa menampilkan keajaibannya—panorama senja yang berwarna-warni, langit bertaburkan bintang-bintang berkilauan, dan beraneka ragam tumbuhan serta kehidupan satwa. Tidak soal di mana kita berada, kita menikmati beberapa di antara hal-hal itu dan hal-hal lain yang menakjubkan dari bumi tempat kita tinggal. Namun, alangkah bagusnya jika ada kesempatan bagi kita untuk mengadakan perjalanan dan melihat contoh-contoh lain dari keajaiban bumi ini!
Tetapi, selain mengagumi pemandangan fisik bumi, banyak turis berkata bahwa yang paling mengesankan dari perjalanan mereka adalah mengenal orang-orang dari kebudayaan lain. Sering kali, mereka kemudian menyadari bahwa pandangan negatif tentang orang lain tidaklah benar. Perjalanan membantu mereka memahami orang dari ras dan kebudayaan lain dan menjalin persahabatan yang berharga.
Satu pelajaran berkesan yang dipetik banyak turis adalah bahwa harta benda tidak selalu membuat orang bahagia. Yang lebih penting adalah hubungan dengan orang lain—menikmati persahabatan yang sudah ada dan menjalin yang baru. Sebuah kisah di Alkitab memperlihatkan bagaimana ”kebaikan manusiawi” yang diterima dari ”penduduk yang berbahasa asing” di Malta mendatangkan manfaat bagi para musafir abad pertama yang mengalami karam kapal di sana. (Kisah 28:1, 2) Dewasa ini, mengunjungi negeri lain dan penduduknya telah turut menyadarkan banyak orang bahwa kita sebenarnya adalah satu keluarga manusia dan bahwa kita punya potensi untuk tinggal bersama dengan damai di bumi ini.
Saat ini, hanya relatif sedikit orang yang dapat berkeliling dunia. Namun, bagaimana dengan di masa depan? Mungkinkah kebanyakan, atau bahkan semua, orang dapat menikmatinya?

Source : Wachtower library 2011 edisi sedarlah tahun 2005

Pariwisata—Sebuah Industri Global



KAPAN terakhir kali Anda berkata kepada diri sendiri, ’Saya butuh liburan’? Barangkali Anda merasa perlu melepaskan diri dari ketegangan sehari-hari. Pernahkah Anda bepergian ke tempat yang jauh untuk berlibur? Perhatikan hal ini: Hanya seabad yang lalu, mayoritas orang di bumi tidak berlibur secara teratur. Selain itu, kebanyakan orang menghabiskan seluruh hidupnya hanya dalam radius beberapa ratus kilometer di sekitar tempat kelahirannya. Bepergian ke tujuan yang jauh untuk berlibur atau menimba ilmu hanya dapat dinikmati oleh sekelompok kecil orang yang suka bertualang atau yang kaya. Namun, dewasa ini, ratusan ribu orang dapat menjelajah ke seluruh pelosok negerinya atau bahkan berkeliling dunia. Apa penyebab perubahan itu?
Setelah revolusi industri, jutaan orang terlibat dalam memproduksi barang dan menyediakan jasa. Hasilnya adalah upah yang lebih besar dan pada akhirnya pendapatan yang lebih banyak. Kemajuan besar dalam teknologi juga menciptakan mesin-mesin yang mengambil alih pekerjaan yang membutuhkan banyak tenaga serta biaya. Alhasil, banyak orang memiliki lebih banyak waktu luang. Dengan adanya faktor-faktor ini, pada pertengahan tahun 1900-an, sarana transportasi umum yang lebih mudah terjangkau tersedia, sehingga arus pariwisata pun terbuka. Kemudian, dengan menyuguhkan gambar tempat-tempat yang jauh, industri komunikasi massa yang baru ditemukan menimbulkan keinginan untuk berwisata.
Hasilnya adalah industri pariwisata global yang berkembang pesat. Organisasi Pariwisata Dunia (WTO) meramalkan bahwa jumlah orang yang berwisata ke luar negeri akan meningkat dari 613 juta pada tahun 1997 menjadi 1,6 miliar pada tahun 2020—dan pada saat itu, angka ini tampaknya tidak akan menurun. Peningkatan ini disertai dengan peningkatan serupa dalam jumlah bisnis, resor (tempat rekreasi), dan negara yang menyediakan fasilitas bagi para turis.
Banyak Negara Memasuki Pasar Wisata
Idealnya, pariwisata adalah bisnis ’semua-pihak-untung’. Konsumen meninggalkan rutin normalnya dan dimanja, dihibur, atau dididik. Namun, apa untungnya bagi penyedia jasa wisata? Pariwisata internasional adalah penghasil mata uang asing. Kebanyakan negara membutuhkan mata uang asing untuk membeli barang dan jasa yang harus mereka impor.
Sebenarnya, sebuah laporan WTO menyatakan, ”Pariwisata internasional adalah penghasil devisa terbesar dunia dan merupakan faktor penting dalam neraca pembayaran di banyak negara. Penerimaan devisa dari pariwisata internasional mencapai 423 miliar dolar AS pada tahun 1996, mengungguli ekspor produk minyak tanah, kendaraan bermotor, peralatan telekomunikasi, tekstil maupun barang atau jasa lainnya”. Laporan yang sama menyatakan, ”Pariwisata adalah industri yang paling berkembang pesat di dunia,” dan industri itu menyumbang hingga ”10 persen Produk Domestik Bruto dunia”. Tidak heran apabila kebanyakan negara, sekarang bahkan mencakup beberapa negara bekas Uni Soviet, ikut dalam—atau bergegas memasuki—industri pariwisata internasional.
Pajak pemerintah yang didapat dari pariwisata digunakan untuk memperbaiki infrastruktur, memungkinkan standar pendidikan yang lebih tinggi, dan memenuhi kebutuhan nasional lainnya yang mendesak. Hampir semua pemerintahan ingin warganya mempunyai pekerjaan. Pekerjaan yang dihasilkan oleh pariwisata memenuhi kebutuhan itu.
Untuk memperlihatkan dampak pariwisata terhadap ekonomi sebuah negara, perhatikan contoh Kepulauan Bahama, negara kepulauan kecil yang terbentang di sepanjang muara Teluk Meksiko antara Florida, di Amerika Serikat, dan Pulau Kuba. Bahama tidak memiliki agrikultur komersial berskala besar dan hampir tidak memiliki bahan mentah untuk industri. Tetapi, kepulauan ini memiliki cuaca yang hangat, pantai tropis yang bersih, populasi yang hanya berjumlah kira-kira seperempat juta orang yang ramah, dan letak yang dekat dengan Amerika Serikat—aset-aset yang bersama-sama menghasilkan industri pariwisata yang berkembang. Namun, apa yang dibutuhkan untuk menyediakan liburan yang menyenangkan dan aman bagi para turis?
Memuaskan Para Wisatawan Modern
Sewaktu pariwisata internasional dimulai, pengalaman mengunjungi negeri asing jarang memuaskan banyak pelancong—padahal perjalanan pada saat itu tidak mudah. Akan tetapi, dewasa ini, komunikasi massa memungkinkan banyak orang menilik dahulu tempat tujuan yang jauh melalui televisi tanpa harus meninggalkan rumah. Dengan demikian, tempat-tempat rekreasi kini tertantang untuk membuat kunjungan menjadi pengalaman nyata yang menyenangkan seraya menyediakan kenyamanan seperti di rumah sendiri atau bahkan yang lebih baik. Selain itu, karena ada banyak turis yang sering berwisata, tempat-tempat tujuan di dunia sering kali saling bersaing.
Hal ini telah menghasilkan atraksi dan resor-resor yang spektakuler. Misalnya, perhatikan sebuah hotel mewah yang sangat besar di Bahama. ”Properti ini telah dirancang untuk menjadikan pengalaman Anda benar-benar tak terlupakan,” kata Beverly Saunders, direktur pengembangan organisasi di hotel itu. ”Tapi, bukan itu saja tujuan kami. Kami ingin interaksi Anda dengan warga kami juga menjadikan pengalaman liburan Anda tak terlupakan.” Bagaimana resor-resor demikian memuaskan kebutuhan para tamunya?
Di balik Penampilan Sebuah Resor
”Apabila ke-2.300 kamar kami penuh, berarti kami memiliki antara 7.500 dan 8.000 tamu untuk dipuaskan sekaligus,” kata Beverly. ”Perencanaan dan implementasinya merupakan tantangan besar. Pengorganisasian yang dituntut untuk memuaskan kebutuhan semua tamu ini sama dengan mengoperasikan sebuah kota kecil tetapi masih ditambah lagi dengan tantangan lain. Kami harus menyediakan makanan yang biasa disantap tamu-tamu kami di kampung halaman mereka. Tetapi, jika ingin agar pengalaman mereka berkesan, kami juga harus menawarkan santapan yang eksotis dan berbagai bentuk rekreasi. Di banyak resor, 50 persen atau lebih personel pelayanan tamu dikhususkan untuk menyediakan makanan dan minuman.”
Namun, seperti yang dikatakan I. K. Pradhan dalam esainya yang berjudul ”Dampak Sosio-Kultural Pariwisata di Nepal”, ”dari semua faktor penentu kesenangan dan kenikmatan yang sesungguhnya sewaktu bepergian, tidak ada faktor lain yang lebih penting daripada cara para tamu diperlakukan oleh warga setempat dan perasaan aman yang mereka alami”.
Bagaimana resor turis yang sukses di seputar dunia memaksimalkan kepuasan di bidang-bidang ini? ”Melatih, memantapkan perilaku yang diinginkan, mengoreksi—perjuangan yang tak habis-habisnya untuk memberikan pelayanan bermutu tinggi secara konsisten”, adalah jawaban seorang eksekutif yang mengawasi pelatihan untuk resor terkemuka di Bahama. ”Kebanyakan orang Bahama pada dasarnya baik-baik. Tetapi, sangat sulit untuk menjadi ramah, menyenangkan, dan selalu tersenyum pada waktu bekerja. Itulah sebabnya, saya selalu menanamkan dalam diri mereka perlunya menyikapi peranan apa pun yang mereka mainkan secara profesional seperti para dokter, pengacara, atau agen asuransi menyikapi peranan mereka. Kami menggunakan standar internasional yang ketat untuk setiap fungsi yang membentuk keseluruhan pengalaman sang turis. Semakin keras kami bekerja sebagai satu tim untuk mencapai standar ini, level performa akan semakin mulus dan tinggi secara konsisten.”
Sisi Lain Situasinya
Jika Anda pernah berwisata, apakah Anda mendapati bahwa meskipun sudah direncanakan masak-masak, tampaknya selalu ada pengeluaran-pengeluaran yang tak terduga? Penyedia wisata juga mengalami hal itu.
”Industri pariwisata dapat mendatangkan banyak manfaat bagi masyarakat kita yang sedang berkembang,” kata Pradhan, yang dikutip sebelumnya. Akan tetapi, ia mendapati bahwa tanpa langkah-langkah yang tepat, ”problem sosial yang tak tersembuhkan juga dapat muncul”. Ia menambahkan, ”[Kita] perlu mempersiapkan diri baik-baik disertai cukup kesadaran tentang berbagai dampak pariwisata modern.” Problem apa yang ia maksudkan?
”Negara yang melayani sejumlah besar turis hampir selalu mengalami kemerosotan yang serius dan tak terduga dalam gaya hidup tradisional mereka. Di beberapa tempat, budaya setempat telah lenyap.” Inilah yang digambarkan oleh Cordell Thompson, seorang pejabat tinggi Kementerian Pariwisata Kepulauan Bahama, sebagai salah satu efek sampingan yang biasa terjadi. Thompson berbangga atas semua keuntungan yang dihasilkan pariwisata di negaranya. Namun, ia mengakui bahwa tinggal di sebuah negeri yang jumlah wisatawannya selalu melampaui—atau hampir sebanyak—jumlah penduduk telah menghasilkan banyak efek yang tak terduga lainnya.
Sebagai contoh, beberapa orang yang bekerja dengan turis mendapati bahwa pada akhirnya mereka mulai membayangkan, secara keliru, bahwa sang pengunjung itu senantiasa berlibur. Warga setempat bisa mencoba meniru gaya hidup yang dibayangkan ini. Yang lain tidak terpengaruh dengan cara seperti itu. Namun, dengan menghabiskan begitu banyak waktu luang mereka di kawasan rekreasi wisatawan, pada akhirnya mereka menanggalkan gaya hidup tradisional mereka. Kadang-kadang, fasilitas yang dibangun untuk para turis menjadi begitu diterima oleh warga sehingga pusat-pusat kebudayaan masyarakat setempat pada akhirnya memudar dan, di beberapa tempat, mati.
Banyak tempat tujuan wisatawan internasional yang populer menghadapi dilema seperti ini. Mereka senang menerima pendapatan yang menguntungkan dari arus pengunjung. Namun, mereka terbebani dengan problem-problem sosial yang ditimbulkan oleh industri-industri yang diciptakan guna memenuhi permintaan turis untuk memenuhi hasrat yang terlarang.
Pariwisata Lestari
Karena beberapa manfaat terbesar dari pariwisata modern menghasilkan efek yang mengancam kelangsungannya sendiri, ungkapan yang semakin sering terdengar adalah ”pariwisata lestari”. Hal itu memperlihatkan bahwa beberapa pihak mulai sadar bahwa manfaat jangka pendek dari praktek pariwisata yang menguntungkan bisa-bisa menghancurkan sumber keuntungannya sendiri. Ada beberapa permasalahan sulit yang harus diatasi jika industri ini hendak dilestarikan untuk seterusnya.
Efek pariwisata terhadap lingkungan, dampaknya terhadap budaya asli setempat, keseiringan target dari resor dan megaresor yang berorientasi pada profit dengan tujuan nasional negara tuan rumah—hal-hal ini adalah beberapa permasalahan yang sering kali bermunculan yang harus diseimbangkan di masa-masa mendatang. Pada bulan-bulan terakhir ini, permasalahan keamanan cukup merugikan industri perjalanan, dan permasalahan ini pada akhirnya harus diatasi. Bagaimana hal ini akan mempengaruhi pertumbuhan pariwisata modern dalam jangka panjang masih belum terjawab sekarang.
Jika kali lain Anda memutuskan untuk melepas ketegangan rutin sehari-hari dan bersantai di sebuah resor yang jauh dari tempat tinggal Anda, Anda mungkin tidak akan menyepelekan industri global ini—pariwisata nasional dan internasional.

Source : Wachtower library 2011 edisi sedarlah tahun 2002