Rabu, 20 Maret 2013

Berdagang Manusia



Brosur wisata yang beredar di Amerika Serikat secara terang-terangan berpromosi, ”Wisata seks ke Thailand. Gadis perawan. Memuaskan. Murah. . . . Tahukah Anda bahwa anak perawan dapat Anda beli hanya dengan $200?” Tetapi, tidak disebutkan di brosur itu bahwa ”anak perawan” itu diculik dulu sebelum dijual secara paksa ke rumah bordil, lalu melayani 10 sampai 20 tamu sehari. Jika mereka berani menolak, mereka akan dipukuli. Ketika suatu kebakaran melalap sebuah rumah bordil di Pulau Puket, sebuah tempat wisata di selatan Thailand, lima pelacur tewas terbakar. Mengapa? Karena mereka dirantai oleh mucikari mereka di tempat tidur supaya tidak kabur.
Dari mana datangnya gadis-gadis ini? Menurut laporan, sektor industri seks ini dipenuhi dengan jutaan gadis dan wanita dari seluruh dunia yang diculik, dipaksa, dan dijual sebagai pelacur. Perdagangan seks internasional berkembang pesat karena adanya kombinasi antara kemiskinan di negara-negara berkembang, kemakmuran di negara-negara maju, serta hukum yang seolah-olah tutup mata terhadap masalah-masalah perdagangan tenaga kerja internasional serta buruh anak.
Organisasi-organisasi wanita di Asia Tenggara memperkirakan bahwa sejak pertengahan dekade 70-an sampai awal dekade 90-an, 30 juta wanita telah dijual di seluruh dunia. Para pedagang manusia ini berkeliaran di stasiun kereta api, desa miskin, dan di jalanan kota, mencari gadis-gadis dan wanita yang masih lugu. Biasanya, para korban tidak berpendidikan, tidak punya orang-tua, telantar, atau kekurangan. Mereka diiming-imingi pekerjaan, diangkut ke luar negeri, dan akhirnya dijual ke rumah bordil.
Setelah runtuhnya blok Komunis pada tahun 1991, terbentuklah populasi baru gadis dan wanita miskin. Deregulasi, swastanisasi, dan melebarnya kesenjangan sosial mengakibatkan meningkatnya kejahatan, kemiskinan, dan pengangguran. Gadis serta wanita asal Rusia dan Eropa Timur sekarang telah menjadi lahan bisnis pelacuran internasional yang terorganisasi. ”Berdagang manusia lebih kecil risikonya ketimbang berdagang obat bius,” kata mantan Komisaris Kehakiman Eropa, Anita Gradin.

Source : Wachtower library 2011 edisi sedarlah tahun 2000

Tidak ada komentar:

Posting Komentar