Brosur wisata yang beredar di Amerika Serikat
secara terang-terangan berpromosi, ”Wisata seks ke Thailand. Gadis perawan.
Memuaskan. Murah. . . . Tahukah Anda bahwa anak perawan dapat Anda
beli hanya dengan $200?” Tetapi, tidak disebutkan di brosur itu bahwa ”anak
perawan” itu diculik dulu sebelum dijual secara paksa ke rumah bordil, lalu
melayani 10 sampai 20 tamu sehari. Jika mereka berani menolak, mereka akan
dipukuli. Ketika suatu kebakaran melalap sebuah rumah bordil di Pulau Puket,
sebuah tempat wisata di selatan Thailand, lima pelacur tewas terbakar. Mengapa?
Karena mereka dirantai oleh mucikari mereka di tempat tidur supaya tidak kabur.
Dari mana datangnya gadis-gadis ini? Menurut
laporan, sektor industri seks ini dipenuhi dengan jutaan gadis dan wanita dari
seluruh dunia yang diculik, dipaksa, dan dijual sebagai pelacur. Perdagangan
seks internasional berkembang pesat karena adanya kombinasi antara kemiskinan
di negara-negara berkembang, kemakmuran di negara-negara maju, serta hukum yang
seolah-olah tutup mata terhadap masalah-masalah perdagangan tenaga kerja
internasional serta buruh anak.
Organisasi-organisasi wanita di Asia Tenggara
memperkirakan bahwa sejak pertengahan dekade 70-an sampai awal dekade 90-an, 30
juta wanita telah dijual di seluruh dunia. Para pedagang manusia ini
berkeliaran di stasiun kereta api, desa miskin, dan di jalanan kota, mencari
gadis-gadis dan wanita yang masih lugu. Biasanya, para korban tidak
berpendidikan, tidak punya orang-tua, telantar, atau kekurangan. Mereka
diiming-imingi pekerjaan, diangkut ke luar negeri, dan akhirnya dijual ke rumah
bordil.
Setelah runtuhnya blok Komunis pada tahun
1991, terbentuklah populasi baru gadis dan wanita miskin. Deregulasi,
swastanisasi, dan melebarnya kesenjangan sosial mengakibatkan meningkatnya
kejahatan, kemiskinan, dan pengangguran. Gadis serta wanita asal Rusia dan
Eropa Timur sekarang telah menjadi lahan bisnis pelacuran internasional yang
terorganisasi. ”Berdagang manusia lebih kecil risikonya ketimbang berdagang
obat bius,” kata mantan Komisaris Kehakiman Eropa, Anita Gradin.
Source : Wachtower library 2011 edisi sedarlah tahun 2000
Tidak ada komentar:
Posting Komentar