Senin, 27 Mei 2013

kepariwisataan #4



1. Berikan analisis kekurangan dan kelebihan pariwisata secara
individu dan secara group!
Jawab :
*Individu
#Kelebihan : Kita lebih banyak waktu untuk menikmati tempat wisata secara pribadi .
#Kekurangan : Tidak dapat melihat atraksi atau pertunjukan yang digelar untuk rombongan .
*Group
#Kelebihan : Kita bisa melihat pertunjukkan yang memang diperuntukan untuk rombongan.
#Kekurangan : Tidak efisien, memakan banyak waktu karena tidak semua tempat bisa dikunjungi .
2. Apa tujuan penyelenggara jasa pariwisata menyediakan supporting tourism superstructure?
Jawab :
Memberi kemudahan atau informasi agar orang-orang yang berpariwisata bisa menentukan pilihan dengan tepat

Sabtu, 18 Mei 2013

Berkenalan dengan Orang Batak

Sewaktu Marco Polo, penjelajah Italia abad ke-13, mengunjungi Pulau Sumatra, ia bercerita tentang ”orang-orang gunung” yang katanya, ”hidup . . . seperti hewan . . . dan makan daging manusia”. Konon, orang-orang yang ia gambarkan itu adalah orang-orang Batak. Namun, saya dan istri mempunyai pandangan yang sama sekali berbeda tentang mereka. Mari kita jumpai orang-orang yang telah kami kenal dan kasihi ini.
”HORAS!” Dengan salam hangat itu, orang-orang Batak sahabat baru kami menyambut kami sewaktu tiba di Sumatra Utara, Indonesia, daerah tugas utusan injil kami yang baru di dekat Danau Toba. Sebagai salah satu lokasi yang khas dan spektakuler di Sumatra dan danau vulkanis terbesar di dunia, Danau Toba merupakan jantung kampung halaman orang Batak.—Lihat kotak di bawah.
Suku Batak merupakan salah satu kelompok pribumi terbesar di Indonesia. Menurut perkiraan, jumlah mereka delapan juta orang, yang terdiri dari enam kelompok etnik yang terpisah namun masih berkerabat—Toba, Simalungun, Karo, Dairi, Angkola, dan Mandailing. Setiap kelompok terdiri dari banyak marga. Bila orang Batak bertemu sesamanya, pertanyaan pertama yang biasa diajukan ialah, ”Apa marga Anda?” Lalu, mereka bisa dengan cepat menentukan seberapa dekat hubungan kekeluargaan mereka.
Aturan Perkawinan
Perkawinan menurut adat Batak pada umumnya tidak hanya mempersatukan dua orang, tetapi juga dua marga. Sepupu dari pihak ibu dianggap sebagai pasangan yang ideal. Tetapi, menikah dengan sepupu dari pihak ayah, atau dengan orang dari marga yang sama, dianggap sangat tabu. Kalau tidak, perkawinan adat biasanya mengikuti aturan: Pria dari marga A mengambil istri dari marga B, pria dari marga B mengambil istri dari marga C, dan pria dari marga C mengambil istri dari marga A. Jalinan yang berputar itu sangat memperkuat ikatan keluarga orang Batak dan menghubungkan pasangan yang baru menikah dengan jaringan keluarga yang besar.
Meskipun pasangan Batak sudah menikah dengan sah dan mempunyai anak, perkawinan mereka tidak diakui oleh marga-marga mereka sebelum pernikahan adat diadakan. Upacara adat yang rumit ini bisa melibatkan ratusan anggota keluarga dan bisa berlangsung selama berjam-jam.
Misalnya, pada perkawinan orang Batak Karo, maskawin dihitung dengan teliti dan dibagikan di antara kelompok tertentu dalam setiap marga. Baru setelah itu, upacara bisa berlangsung. Anggota-anggota marga akan memberikan ceramah yang panjang tentang kehidupan berumah tangga. Kedua mempelai mendengarkan baik-baik. Acara makan dan tari-tarian melengkapi pesta itu.
Firdaus bagi Petani
Di masa lampau, keluarga Batak tinggal di rumah-rumah panjang tradisional yang besar dengan dua atap yang meruncing mirip tanduk kerbau. Beberapa bangunan yang penuh hiasan ini—yang terbuat dari kayu, bambu, serabut pohon enau atau ijuk—dibangun di atas jangkungan, dan ada rumah yang dapat menampung hingga 12 keluarga. Paku sama sekali tidak digunakan. Banyak bangunan kuno yang sudah berusia 300 tahun masih dihuni. Kolong rumah digunakan sebagai tempat ternak—anjing, ayam, babi, kerbau, dan sapi.
Perekonomian penduduk pada umumnya ditunjang oleh pertanian, penangkapan ikan, peternakan, dan juga pariwisata. Sebenarnya, lereng-lereng bukit, yang mengelilingi Danau Toba ibarat amfiteater alam yang luas, merupakan firdaus bagi petani. Di sana terdapat petak-petak sawah berwarna hijau-zamrud. Kopi, buah-buahan, dan rempah-rempah serta sayur-mayur tumbuh subur di tanah vulkanis yang berwarna hitam. Para nelayan dengan perahu kayu memperoleh rezeki mereka dari danau yang sejuk serta jernih itu.
Pada sore harinya, anak-anak senang bermain-main dan berenang di danau, pria-pria berbaur di kedai-kedai, dan suara musik terdengar sayup-sayup di udara malam yang sejuk. Sebenarnya, orang Batak terkenal di daerah setempat sebagai penyanyi dengan suara yang sangat kuat dan menggugah emosi. Mereka juga suka menari—pria dan wanita secara terpisah—dengan gemulai menggerakkan tangan dan lengan mereka.
Masa Lalu yang Berubah-ubah
Sejak zaman Marco Polo hingga abad ke-19, dilaporkan bahwa orang Batak adalah kanibal garang yang dalam ritusnya memakan para pejuang musuh dan penjahat. Namun, menurut Leonard Y. Andaya, seorang profesor sejarah, beberapa ”perincian yang mengerikan tentang praktek kanibal boleh jadi direkayasa oleh orang Batak sendiri agar orang luar takut memasuki daerah mereka”. Apa pun halnya, ”pada abad ke-19, pemerintah kolonial Belanda melarang kanibalisme di daerah jajahan mereka”, kata buku The BatakPeoples of the Island of Sumatra.
Dahulu, orang Batak adalah penganut animisme dan percaya kepada banyak dewa dan roh. Mereka juga mengadakan upacara persembahan, berbicara dengan orang mati, bertenung, dan menggunakan sihir. Mantra-mantra, tabel tenung, dan jampi-jampi ditulis pada lempeng kulit kayu yang panjangnya hingga 15 meter dan dilipat-lipat seperti kipas, menjadi semacam buku. Dan, ada kain tenun keramat yang banyak hiasannya untuk menangkal hal-hal buruk dan meramalkan masa depan.
Menurut catatan, misionaris Barat pertama yang datang ke tanah Batak adalah dari gereja Baptis, yakni R. Burton dan N. Ward, yang tiba pada tahun 1824. Sepuluh tahun kemudian, sewaktu tentara Belanda berupaya menguasai sebagian dari Indonesia, dua misionaris lainnya, orang Amerika, yakni H. Lyman dan S. Munson, memberanikan diri untuk memasuki daerah Batak tetapi mereka segera dibunuh. Dua misionaris Katolik, yang mengabaikan peringatan agar tidak memasuki daerah yang bisa berbahaya, mungkin juga mengalami akhir yang sama.
Namun, misionaris Jerman, Ludwig Nommensen, yang memulai kegiatannya di kalangan orang Batak pada tahun 1862, selamat dan cukup sukses. Malah, dia masih dihormati oleh banyak penduduk setempat. Dewasa ini, kebanyakan orang Batak mengakuberagama Kristen, selebihnya banyak yang beragama Islam atau animis. Walaupun demikian, banyak yang masih mempraktekkan beberapa kepercayaan tradisional mereka.
Kabar Baik Sejati Tiba
Sekitar tahun 1936, Saksi-Saksi tiba di tanah Batak, membawa kabar baik Kerajaan Allah, yang Yesus nubuatkan akan diberitakan ”di seluruh bumi yang berpenduduk”. (Matius 24:14) Banyak orang Batak menyambut berita yang berdasarkan Alkitab dan meninggalkan cara hidup yang dipengaruhi takhayul. Alhasil, di daerah ini sekarang terdapat sekitar 30 sidang jemaat Saksi-Saksi Yehuwa.—Lihat kotak di samping.
Sewaktu saya dan istri menceritakan kabar baik kepada penduduk di daerah itu, kami sering bertemu dengan wisatawan yang mengagumi pemandangan spektakuler Danau Toba dan menikmati iklimnya yang menyenangkan. Kami pun merasakan hal yang sama dengan mereka. Tetapi, dapat kami tambahkan bahwa keindahan sejati daerah ini adalah penduduknya—orang Batak yang hangat dan ramah.
DANAU SEJUK DENGAN MASA LALU YANG DAHSYAT
  Danau Toba yang panjangnya 87 kilometer dan lebarnya 27 kilometer tak diragukan lagi merupakan danau kawah terbesar di dunia. Air tawar yang terdapat dalam danau itu cukup untuk menggenangi seluruh Kerajaan Inggris hingga setinggi kira-kira satu meter. Perairan yang spektakuler ini dikelilingi oleh puncak-puncak gunung berapi berwarna hijau yang merupakan bagian dari Pegunungan Bukit Barisan. Danau ini begitu indahnya dari sisi mana pun sehingga juru foto tidak akan melewatkan kesempatan untuk mengabadikannya. Danau ini terbentuk akibat satu atau beberapa letusan gunung berapi yang luar biasa besar, yang menurut beberapa ilmuwan boleh jadi termasuk di antara letusan terdahsyat dalam sejarah bumi. Belakangan, kawahnya yang sangat besar dipenuhi air, sehingga terbentuklah apa yang kini dikenal sebagai Danau Toba. Naiknya dasar danau karena berbagai pergeseran menghasilkan Pulau Samosir yang indah, yang luasnya 647 kilometer persegi, kira-kira seluas Republik Singapura.
FIRDAUS YANG SEJUK
  Danau Toba terletak kira-kira 300 kilometer dari khatulistiwa, namun yang mengherankan, iklimnya sejuk, karena danau ini berada di ketinggian 900 meter di atas permukaan laut. Pohon-pohon enau dan pinus tumbuh bersama-sama dengan subur di firdaus yang sejuk ini.
  Danau ini menjadi semacam garis pemisah ekologi bagi sejumlah hewan. Misalnya, di sebelah utara danau terdapat orangutan, lutung, dan monyet pemakan daun, sedangkan di bagian selatannya terdapat tapir Melayu, ingkir, dan monyet lingur.
DARI DUKUN MENJADI ORANG KRISTEN SEJATI
  Nursiah adalah seorang datu atau dukun Batak. Ia menggunakan ilmu gaib untuk menyembuhkan penyakit, mengusir roh-roh jahat, dan berkomunikasi dengan ”orang-orang mati”.* Usahanya berkembang pesat dan—meskipun kegiatannya berkaitan dengan ilmu gaib—dia anggota yang dihormati di gereja Protestan setempat.
  Ketika Nursiah bertemu dengan Saksi-Saksi Yehuwa, dia heran mendengar bahwa nama Allah adalah Yehuwa. (Mazmur 83:18) Belakangan, dia membaca dalam Alkitab bahwa banyak orang yang menjadi percaya di abad pertama meninggalkan ilmu gaib dan membakar buku-buku spiritisme mereka agar dapat melayani Allah dengan cara yang diperkenan. (Kisah 19:18, 19) Meski ditentang keras, ia memutuskan untuk melakukan hal yang sama, yakin sepenuhnya akan kata-kata Yesus, ”Kebenaran itu akan memerdekakan kamu.”—Yohanes 8:32.
  Kini, Nursiah serta putranya, Besli, adalah Saksi-Saksi yang terbaptis, dan suaminya, Nengku, ikut bersama mereka menghadiri pertemuan Kristen secara rutin. ”Sekarang, setelah melayani Yehuwa,” katanya, ”kehidupan saya jauh lebih baik! Sewaktu masih dukun, saya ingin sekali mengetahui kebenaran. Sekarang, saya benar-benar puas.”

Source: Wachtower Library 2011

Menara Crest

MENARA-MENARA bersejarah terdiri dari berbagai bentuk dan ukuran serta memiliki banyak fungsi. Beberapa dibangun untuk menjaga lokasi-lokasi yang strategis, ada juga yang digunakan sebagai penjara; akan tetapi, kebanyakan sekarang digunakan sebagai objek pariwisata. Menara yang merupakan bangunan tertinggi di kota kecil Crest di tepi Sungai Drôme, sebelah tenggara Prancis, telah memenuhi ketiga peran ini.
Dengan ukurannya yang mengesankan, Menara Crest dapat dilihat dari jarak jauh. Karena sisinya yang menghadap ke timur laut dengan tinggi 52 meter, menara ini menjadi salah satu menara tertinggi di Prancis. Dari puncaknya, panorama kaki Gunung Vercor, Pegunungan Ardèche, dan Lembah Rhone benar-benar luar biasa.
Asal-usul menara ini tidak diketahui dengan pasti, namun pada awalnya menara ini berfungsi sebagai benteng. Selama Perang Salib kaum Albigens pada abad ke-13, pasukan Katolik di bawah pimpinan Simon de Montfort, dibantu para uskup Katolik, berhasil merebut kastel itu. Kemudian, kastel ini digunakan sebagai basis dalam peperangan melawan kelompok Albigens.
Selama Perang Agama (tahun 1562-98), beberapa kali kastel itu diserang oleh orang-orang Protestan namun tidak pernah berhasil direbut. Menara itu nyaris dihancurkan pada tahun 1633, sewaktu semuanya, kecuali bagian yang terkuat dan teramannya, dimusnahkan atas perintah Raja Louis XIII. Sejak saat itu, menara ini menjadi penjara bagi penjahat biasa serta para musuh kerajaan dan juga kaum Huguenot. Pemenjaraan terhadap orang-orang Protestan Prancis ini bersamaan waktunya dengan masa ketika Edikta Nantes, yang telah menghasilkan toleransi beragama hingga taraf tertentu di Prancis, mulai diabaikan. Dinding-dinding penjara itu masih menyimpan grafiti yang digoreskan oleh beberapa tahanan agama ini.
Sekarang, Menara Crest telah menjadi monumen bersejarah yang dikunjungi oleh rata-rata 30.000 orang setiap tahun. Pada tahun 1998, menara ini disertakan dalam acara peringatan 400 tahun keluarnya Edikta Nantes. Dinding-dindingnya merupakan pengingat yang suram tentang apa yang akan terjadi jika iklim intoleransi beragama dibiarkan berkembang.

Source : Wachtower Library 2011

Firdaus—Harapan yang Hilang?

Pada tahun-tahun belakangan ini, Tahiti telah menghadapi problem-problem lain. Siklon mengguncang-guncang pulau itu pada awal tahun 1980-an, merusak terumbu-terumbu koralnya. Tetapi, ancaman terbesarnya datang dari manusia sendiri. Proyek-proyek pembangunan telah menyebabkan erosi dan polusi tanah. Donna Leong, seorang pakar manajemen limbah, mengatakan, ”Industri pariwisata menghasilkan sejumlah besar produk limbah. . . . Jika polusi lingkungannya tidak ditangani, Tahiti dan pulau-pulau lainnya tidak akan bisa lagi menjadi negeri dengan berlimpah flora dan fauna dan laguna-laguna biru kristal.”
Meskipun demikian, harapan akan sebuah firdaus yang dipulihkan sama sekali tidak lenyap. Coba pikir, Yesus Kristus sendiri berjanji kepada seorang penjahat yang bertobat, ”Engkau akan bersamaku di Firdaus”! (Lukas 23:43) Yesus saat itu tidak sedang memaksudkan suatu Utopia yang kaku, seperti yang dilukiskan dalam fiksi, tetapi memaksudkan firdaus global, yang diawasi oleh suatu pemerintah surgawi.* Lebih dari 1.700 Saksi-Saksi Yehuwa di Tahiti menaruh harapan mereka pada Firdaus di masa depan ini. Mereka merelakan waktu untuk membagikan harapan itu kepada sesama mereka. Meskipun Tahiti yang indah memiliki banyak corak bersifat firdaus, ia tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Firdaus global yang akan Allah datangkan. Pencarian akan Firdaus ini tidaklah sia-sia.

Source : Wachtower Library 2011

Ikan Santo Petrus

JIKA Anda berkunjung ke sebuah restoran di tepi Laut Galilea, Israel, mungkin Anda akan penasaran sewaktu melihat ”ikan Santo Petrus” pada menu. Pramusaji restoran itu bisa jadi akan memberi tahu Anda bahwa menu itu merupakan salah satu hidangan terpopuler, khususnya bagi para wisatawan. Ikan itu lezat apabila digoreng dalam keadaan segar. Tetapi, mengapa ikan itu dihubungkan dengan rasul Petrus?
Suatu peristiwa yang diuraikan dalam Alkitab di Matius 17:24-27 menjawab pertanyaan itu. Di situ kita membaca bahwa sewaktu berkunjung ke kota Kapernaum di tepi Laut Galilea, Petrus ditanya apakah Yesus membayar pajak bait. Belakangan, Yesus menjelaskan bahwa sebagai Putra Allah, ia tidak berkewajiban membayar pajak itu. Namun, agar tidak memberi sandungan bagi orang lain, ia menyuruh Petrus pergi ke laut, melemparkan pancing, mengambil ikan pertama yang muncul, dan membayar pajak bait dengan uang logam yang terdapat di mulut ikan itu.
Julukan ”ikan Santo Petrus” diambil dari peristiwa ini dalam Alkitab. Namun, ikan jenis apa yang Petrus tangkap?
Laut yang Kaya akan Ikan
Menurut perkiraan, dari hampir 20 spesies ikan yang ada di Laut Galilea, hanya sekitar 10 spesies yang mungkin adalah jenis ikan yang Petrus tangkap. Kesepuluh spesies ini dibagi menjadi tiga kelompok komersial yang utama.
Kelompok terbesar disebut musht (Tilapia galilea), yang dalam bahasa Arab berarti ”sisir”, karena kelima spesiesnya memiliki sirip punggung yang berbentuk seperti sisir. Salah satu spesies musht panjangnya sekitar 45 sentimeter dan beratnya kira-kira 2 kilogram.
Kelompok kedua adalah sarden Khineret atau sarden Laut Galilea (Acanthobrama terrae sanctae), yang menyerupai ikan haring kecil. Pada puncak musim sarden, berton-ton sarden ditangkap setiap malam, sehingga total tangkapan sarden mencapai kira-kira seribu ton per tahun. Sejak dahulu, sarden ini telah diawetkan.
Kelompok ketiga adalah biny, yang juga dikenal sebagai ikan sungut (Barbus longiceps). Ketiga spesiesnya mempunyai sungut di sudut mulutnya, sehingga dalam bahasa Semit ikan itu dinamai biny, yang berarti ”rambut”. Ikan ini memangsa moluska, siput, dan ikan kecil. Panjang ikan sungut yang berkepala panjang bisa mencapai sekitar 75 sentimeter dan beratnya lebih dari 7 kilogram. Ikan sungut adalah ikan yang banyak dagingnya, dan merupakan hidangan populer untuk hari-hari Sabat serta pesta-pesta orang Yahudi.
Tidak termasuk dalam tiga kelompok utama komersial tadi adalah sejenis ikan lele (Clarias lazera), ikan terbesar di Laut Galilea. Panjangnya bisa mencapai 1,20 meter dan beratnya kira-kira 11 kilogram. Namun, lele tidak bersisik, sehingga haram menurut Hukum Musa. (Imamat 11:9-12) Oleh karena itu, ikan ini tidak dimakan oleh orang Yahudi, dan mungkin bukan jenis ikan yang Petrus tangkap.
Ikan Apa yang Petrus Tangkap?
Nah, yang biasanya dianggap ”ikan Santo Petrus” adalah musht, dan ikan inilah yang dihidangkan di restoran-restoran dekat Laut Galilea. Karena tulangnya relatif sedikit dan kecil-kecil, ikan ini lebih mudah diolah dan disantap. Tetapi, apakah memang ikan ini yang ditangkap Petrus?
Mendel Nun, nelayan yang tinggal di pesisir Laut Galilea selama lebih dari 50 tahun, adalah orang yang dianggap paling tepat untuk memberi keterangan tentang ikan-ikan setempat. Ia menyatakan, ”Musht menyantap plankton dan tidak tertarik pada makanan lain. Karena itu, ikan jenis ini dijala, bukan dipancing.” Jadi, tampaknya bukan ikan ini yang ditangkap Petrus. Sarden Khineret bahkan lebih kecil lagi kemungkinannya sebagai ikan yang ditangkap Petrus, mengingat ukurannya yang terlalu kecil untuk disebut ikan Santo Petrus.
Kalau begitu, tinggal ikan sungut, yang menurut beberapa orang lebih tepat untuk dijuluki ”ikan Santo Petrus”. Nun berkomentar, ”Sejak dahulu kala, nelayan Laut Galilea menggunakan pancing yang diberi umpan sarden untuk menangkap ikan sungut, yang adalah predator dan pemangsa makhluk-makhluk hidup di dasar Laut Galilea.” Ia menyimpulkan, ”Hampir dapat dipastikan bahwa Petrus menangkap seekor ikan sungut.”
Kalau begitu, mengapa musht yang disebut ”ikan Santo Petrus”? Nun menjawab, ”Hanya ada satu alasan untuk pemberian julukan yang keliru itu. Demi pariwisata! . . . Seraya para pelancong berdatangan dari daerah-daerah yang jauh, tak diragukan, agaknya menguntungkan bagi bisnis untuk memberi julukan ’ikan Santo Petrus’ pada musht yang disajikan di rumah-rumah makan masa lampau di pinggir Laut Galilea. Ikan yang paling populer dan paling mudah diolah perlu punya nama bernilai jual!”
Meskipun kita tidak dapat menyatakan dengan pasti ikan apa yang ditangkap Petrus, ikan apa pun yang dihidangkan di hadapan Anda sebagai ”ikan Santo Petrus” kemungkinan besar adalah hidangan yang sangat lezat.

Source : Wachtower Library 2011

Cagar Nasional Paracas—Perjalanan Penuh Temuan

SELAMA bertahun-tahun para wisatawan dari seluruh dunia terpikat pada Peru. Agenda perjalanan mereka biasanya mencakup Lima; Cuzco, ibu kota Inka; puing-puing yang megah dari Machu Picchu; Pegunungan Andes yang megah; dan mungkin bahkan naik perahu di Sungai Amazon. Baru-baru ini, objek wisata lain ditambahkan pada daftarnya—Cagar Nasional Paracas. Letaknya kira-kira 250 kilometer sebelah selatan Lima, melalui Jalan Raya Pan-Amerika.
Cagar Nasional Paracas meliputi areal seluas 335.000 hektar yang terdiri dari daerah pesisir dan Semenanjung Paracas. Cagar ini didirikan pada tahun 1975 oleh pemerintah Peru untuk melestarikan banyak satwa liar yang secara permanen menghuni daerah itu atau yang setiap tahun beruaya (bermigrasi) ke sana. Cagar ini berguna untuk memupuk respek pada lingkungan, sekaligus untuk mempromosikan pariwisata. Lebih dari 100 situs arkeologis sejauh ini telah ditemukan, bukti dari ratusan tahun kebudayaan Paracas. Kawasan bahari merupakan rumah atau tempat tinggal sementara bagi singa laut [Arctocephalus australis and Otaria byronia], linsang air Amerika Selatan [Lutra felina; Lontra Felina], lumba-lumba, lebih dari dua ratus spesies burung, dan empat jenis penyu laut.
Pada peta, Semenanjung Paracas tampak hanya seperti kancing pada tonjolan yang jauh lebih besar berupa daratan benua. Akibat kedudukan geografis ini, daerah tersebut mendapat tiupan angin pasat yang kuat, yang di daerah itu disebut paracas. Angin ini bertiup ke utara, mendorong Arus Peru, atau Arus Humboldt, yang dingin. Perpaduan antara perairan yang dingin, pantai yang dangkal, dan umbalan laut (naiknya perairan bawah) telah menjadikan semenanjung itu salah satu zona satwa liar bahari yang paling produktif di dunia. Samudra Pasifik di sini berwarna hijau karena berlimpah dengan mikroorganisme, termasuk fitoplankton maupun zooplankton, dan organisme-organisme ini berfungsi sebagai makanan bagi jutaan ikan anchovy dan ikan kecil lainnya yang berkeriapan di perairan yang kaya nutrisi ini. Limpahnya makanan bahari ini, khususnya ikan anchovy, menunjang kehidupan banyak burung laut, penguin [Spheniscus humboldti], dan mamalia laut yang dilindungi di cagar ini.
Mengunjungi Kepulauan Ballestas
Perjalanan kita dimulai dari dermaga di teluk di Paracas. Banyak perahu kecil penangkap ikan yang tertambat bergoyang naik-turun, dan penumpangnya hanyalah burung-burung pelikan setempat yang duduk membersihkan bulunya dan mengamati kegiatan orang-orang di sekelilingnya. Perahu motor kami datang, dan kami dengan semangat naik ke atasnya dan mengenakan pelampung. Segera setelah kami meninggalkan lalu lintas pelabuhan, perahu kami mengebut, membuat perjalanan itu mengasyikkan seraya kami melesat di antara ombak teluk yang tenang.
Perhentian kami yang pertama adalah di dekat ujung semenanjung itu. Di sana, pemandu kami mengomentari tentang suatu desain sangat besar di lereng bukit. Desain itu disebut Candelabra (tempat lilin yang bercabang), meskipun Anda mungkin berpikir itu mirip kaktus dengan tiga cabang tegak. Ada yang menduga bahwa desain itu merupakan bagian dari gambar Garis Nazca yang terkenal itu.* Yang lain-lain telah berspekulasi bahwa desain itu digambar oleh bajak laut atau itu merupakan lambang Masonik yang dibuat oleh para prajurit yang mengikuti pemimpin revolusi José de San Martín pada tahun 1820. Apa pun asal usulnya, karya seni di gurun ini merupakan pemandangan yang mengesankan.
Setelah kami melewati semenanjung itu, perjalanan kami mulai lebih bergelombang. Kami dapat melihat pulau-pulau berwarna putih berkilauan di bawah sinar mentari pagi. Namun, ini bukanlah batu karang dan pasir melainkan guano—kotoran burung laut—yang menutupi pulau-pulau itu.
Kami tiba di Kepulauan Ballestas, atau Senapan Busur, yang dinamai demikian oleh orang Spanyol karena di kepulauan itu ada jalan-jalan alami beratap melengkung mirip busur. Juru mudi melambatkan perahu motornya. Pertanyaan pertama yang mencuat dalam pikiran kami adalah, ’Siapa yang sedang mengamati siapa?’ karena di bukit karang dan pinggiran teratas pulau itu bertengger tak terhitung banyaknya burung laut—pelikan, camar kecil, camar laut, angsa batu [Sula variegata], beragam burung pecuk padi, dan bahkan penguin Humboldt. Meskipun tampaknya aneh melihat penguin di zona tropis, perairan yang luar biasa dingin dan persediaan ikan yang limpah membuat penguin-penguin itu merasa betah. Kemudian, kami mengamati singa-singa laut [Otaria byronia] yang sedang berjemur di setiap permukaan batu yang ada. Kepulauan tersebut, pada umumnya, adalah bentukan batu yang menjorok langsung ke laut, dan kami mengagumi cara penguin-penguin dan singa-singa laut, yang begitu kikuk di darat, berhasil mencapai tempat bertengger mereka.
Pemandu kami menceritakan kepada kami banyak perincian dasar tentang singa laut. ”Seekor singa laut jantan [Otaria byronia] bisa berbobot lebih dari 300 kilogram dan memiliki pasangan sebanyak 20 ekor singa laut betina,” jelasnya. Meskipun yang betina berbentuk singa laut, sang pejantan yang sangat besar tampak seperti karung penuh lemak. Kami diberi tahu bahwa singa laut jantan ini adalah mamalia yang kuat dan menakutkan yang berkelahi satu sama lain untuk menguasai pasangan-pasangan dan wilayah. Yang kalah sering kali terluka parah sampai mati, sehingga menjadi santapan elang-bangkai kalkun [Cathartes aura] dan kondor yang juga bagian dari mata rantai makanan di perairan pesisir ini. Seekor singa laut punya selera makan yang cukup besar, sering melahap 10 kilogram ikan hanya dalam sekali makan malam. Tetapi, makhluk-makhluk ini tidak agresif terhadap kita—hanya sangat ingin tahu.
Seraya juru mudi kami dengan lambat membawa kami mengitari setiap tiga pulau dan jalan-jalan batu beratap melengkung itu, kami memperhatikan bahwa udara penuh dengan bau guano yang menyengat. ”Di jalan-jalan beratap melengkung ini,” jelas pemandu kami, ”tinggal kelelawar pengisap darah yang menikmati darah singa-singa laut yang sedang tidur.” Di kejauhan, kami melihat apa yang tampaknya seperti noda gelap dan lebar di pulau terbesar itu. Itu adalah kawanan guanay, atau burung pecuk padi, burung air yang menyukai kebersamaan. Mereka bergerombol rapat-rapat sambil melepas lelah dan menghasilkan guano. Angsa batu menukik lurus-lurus ke laut, sementara burung-burung lain melayang melewati kami setinggi mata.
Akhirnya, kami sampai di ’bangsal persalinan’, daerah pantai terluas di kepulauan itu. Kami tergetar melihat banyak singa laut dengan kelompok-kelompok bayinya yang berwarna gelap sedang menggeliat-geliat di sekeliling singa-singa laut betina. Pantai itu ramai dengan suara-suara parau dan gaduh, dan pekikan yang tinggi. Kami diberi tahu bahwa bayi-bayi itu bisa menyusu sampai enam bulan dan bahwa mereka belajar berenang di punggung induknya.
Seraya kami berlayar kembali ke dermaga, pemandu kami mengatakan, ”Enam puluh persen bayi singa laut akan mati sebelum berusia setahun. Ada yang tertindih atau sengaja dibunuh oleh singa laut jantan. Yang lain-lain tenggelam. Fenomena cuaca El Niño juga dapat menghancurkan, karena fenomena ini mendesak banyak ikan anchovy ke arah selatan ke perairan yang lebih dingin. Singa-singa laut muda tidak kuat untuk mengikuti singa laut dewasa ke daerah baru untuk mencari makanan.”
Ironisnya, ancaman terbesar bagi kelangsungan hidup satwa liar di sini mungkin adalah manusia. Sejumlah besar singa laut telah dibantai oleh para pemburu untuk mendapatkan bulunya dan oleh para nelayan yang menganggap mereka sebagai pengganggu. Penyu-penyu laut telah dipanen untuk diambil dagingnya, yang dianggap makanan enak, dan cangkangnya, yang dijadikan koleksi. Populasi burung telah terganggu oleh para pemanen guano (untuk dijadikan pupuk). Persediaan makanan telah terkuras oleh penangkapan ikan besar-besaran. Kami diberi tahu bahwa metode-metode konservasi satwa liar telah ditetapkan hukum. Barangkali, hukum seperti itu akan mempengaruhi orang-orang agar lebih sadar akan konservasi.
Perjalanan ke Masa Lalu Paracas
Sewaktu menginjakkan kaki di daratan, kami bersiap untuk menikmati setengah terakhir tur kami, yang membawa kami ke Museum Julio C. Tello di semenanjung itu.
Pada tahun 1925, arkeolog Peru Julio C. Tello dan seorang rekannya melakukan penemuan mereka yang pertama di semenanjung itu. Mereka menamai daerah itu Kepala Panjang, karena di sana ada tengkorak-tengkorak manusia yang dipanjangkan yang diletakkan setengah terkubur di permukaan tanah yang gersang. Tengkorak-tengkorak ini adalah sisa-sisa kebudayaan Paracas, yang oleh para ilmuwan keberadaannya diperkirakan antara tahun 1000 SM hingga 200 SM. Orang Paracas tidak punya bahasa tertulis. Jadi, meskipun diketahui bagaimana orang-orang ini memanjangkan tengkorak—menggunakan bantalan, tongkat kayu, dan kawat—tak seorang pun tahu mengapa. Di daerah yang sama, Tello mendapat temuan berikutnya—gua kuburan bawah tanah yang berbentuk seperti piala terbalik. Mayat-mayat yang dibungkus kain, dalam posisi jongkok seperti janin, ditempatkan bersisi-sisian, siap untuk ”dilahirkan kembali” dalam kehidupan berikutnya. Jagung, kacang, serta ubi, dan juga peralatan musik serta upacara, juga ditemukan di gua-gua ini.
Dua tahun kemudian, Tello dan seorang rekan lainnya menemukan tanah pekuburan yang sangat luas, yang mereka namai Paracas Necropolis. Tanah ini memuat 429 kuburan, beberapa setinggi lebih dari 1,6 meter. Mumi-mumi yang berjongkok ini masing-masing ditempatkan di dalam keranjang. Mereka dibalut dengan jubah mewah beraneka warna yang mengesankan, yang berdesain sulam multiwarna, sering kali dengan corak religius-gaib.
Contoh-contoh jubah penguburan ini, dengan ratusan artifak menarik lainnya dari budaya Paracas, dapat dilihat di Museum Julio C. Tello.
Kami berharap perjalanan kami menyelusuri Cagar Nasional Paracas dapat membangkitkan selera Anda untuk menjelajahi lebih banyak harta Peru.

Source : Wachtower Library 2011