Pada tahun-tahun belakangan ini,
Tahiti telah menghadapi problem-problem lain. Siklon
mengguncang-guncang pulau itu pada awal tahun 1980-an, merusak
terumbu-terumbu koralnya. Tetapi, ancaman terbesarnya datang dari
manusia sendiri. Proyek-proyek pembangunan telah menyebabkan erosi dan
polusi tanah. Donna Leong, seorang pakar manajemen limbah, mengatakan,
”Industri pariwisata menghasilkan sejumlah
besar produk limbah. . . . Jika polusi lingkungannya tidak ditangani,
Tahiti dan pulau-pulau lainnya tidak akan bisa lagi menjadi negeri
dengan berlimpah flora dan fauna dan laguna-laguna biru kristal.”
Meskipun demikian, harapan akan
sebuah firdaus yang dipulihkan sama sekali tidak lenyap. Coba pikir,
Yesus Kristus sendiri berjanji kepada seorang penjahat yang bertobat,
”Engkau akan bersamaku di Firdaus”! (Lukas 23:43)
Yesus saat itu tidak sedang memaksudkan suatu Utopia yang kaku, seperti
yang dilukiskan dalam fiksi, tetapi memaksudkan firdaus global, yang
diawasi oleh suatu pemerintah surgawi.*
Lebih dari 1.700 Saksi-Saksi Yehuwa di Tahiti menaruh harapan mereka
pada Firdaus di masa depan ini. Mereka merelakan waktu untuk membagikan
harapan itu kepada sesama mereka. Meskipun Tahiti yang indah memiliki
banyak corak bersifat firdaus, ia tidak ada apa-apanya dibandingkan
dengan Firdaus global yang akan Allah datangkan. Pencarian akan Firdaus
ini tidaklah sia-sia.
Source : Wachtower Library 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar