Sabtu, 18 Mei 2013

Firdaus—Harapan yang Hilang?

Pada tahun-tahun belakangan ini, Tahiti telah menghadapi problem-problem lain. Siklon mengguncang-guncang pulau itu pada awal tahun 1980-an, merusak terumbu-terumbu koralnya. Tetapi, ancaman terbesarnya datang dari manusia sendiri. Proyek-proyek pembangunan telah menyebabkan erosi dan polusi tanah. Donna Leong, seorang pakar manajemen limbah, mengatakan, ”Industri pariwisata menghasilkan sejumlah besar produk limbah. . . . Jika polusi lingkungannya tidak ditangani, Tahiti dan pulau-pulau lainnya tidak akan bisa lagi menjadi negeri dengan berlimpah flora dan fauna dan laguna-laguna biru kristal.”
Meskipun demikian, harapan akan sebuah firdaus yang dipulihkan sama sekali tidak lenyap. Coba pikir, Yesus Kristus sendiri berjanji kepada seorang penjahat yang bertobat, ”Engkau akan bersamaku di Firdaus”! (Lukas 23:43) Yesus saat itu tidak sedang memaksudkan suatu Utopia yang kaku, seperti yang dilukiskan dalam fiksi, tetapi memaksudkan firdaus global, yang diawasi oleh suatu pemerintah surgawi.* Lebih dari 1.700 Saksi-Saksi Yehuwa di Tahiti menaruh harapan mereka pada Firdaus di masa depan ini. Mereka merelakan waktu untuk membagikan harapan itu kepada sesama mereka. Meskipun Tahiti yang indah memiliki banyak corak bersifat firdaus, ia tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Firdaus global yang akan Allah datangkan. Pencarian akan Firdaus ini tidaklah sia-sia.

Source : Wachtower Library 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar