Rabu, 20 Maret 2013

Apa yang Sedang Dipromosikan?

Orang-orang yang tidak membentuk kehidupan mereka menurut prinsip-prinsip Kristen mungkin merasa bahwa perilaku apa pun selama liburan diperbolehkan. Di beberapa negara Eropa, wisata seks merupakan bisnis besar, dan beberapa agen perjalanan bahkan mempromosikannya. The European menulis bahwa ’hal-hal yang menjijikkan yang dilakukan orang-orang Eropa di beberapa kota rekreasi di Asia sudah lama menjadi rahasia umum’. Menunjuk kepada satu negara Asia, majalah Jerman Der Spiegel memperkirakan bahwa hingga 70 persen dari seluruh wisatawan pria adalah ”turis seks”.
Para turis wanita kini mengikuti jejak dari mitra prianya. Sebuah perusahaan penerbangan sewaan dari Jerman yang khusus bertolak ke Karibia memperkirakan bahwa 30 persen dari para penumpang wanitanya berlibur ke sana untuk tujuan tertentu yaitu hubungan seksual gelap. The European mengutip kata-kata seorang jurnalis Jerman, ”Mereka menganggapnya sebagai cara yang mudah dan tidak rumit untuk menikmati kesenangan—permainan yang menggairahkan.”
Akan tetapi, orang-orang Kristen sejati tidak memandang hubungan seksual gelap sebagai cara yang dapat diterima untuk menikmati kesenangan. Hal itu melanggar prinsip-prinsip Kristen dan penuh dengan bahaya. Walaupun bahaya-bahaya itu secara umum sudah disadari, banyak orang hanya berusaha menghindari akibatnya bukannya menolak prakteknya. Iklan yang sering terlihat di surat kabar Jerman memperlihatkan sebuah payung dan dua kursi pantai yang kosong. Tulisannya berbunyi, ”Hati-hati dalam liburan Anda, dan kembalilah tanpa AIDS.”
Produk sampingan yang menjijikkan dari wisata seks adalah penganiayaan seksual terhadap anak-anak. Menarik, pada tahun 1993 pemerintah Jerman memberlakukan sebuah undang-undang yang akan menghukum orang-orang Jerman bila kedapatan bersalah karena mengadakan hubungan seksual dengan anak-anak—bahkan sewaktu berlibur ke luar negeri. Akan tetapi, hingga sekarang hanya sedikit hasil-hasil yang positif. Pelacuran anak-anak telah—dan tetap—menjadi bagaikan luka yang bernanah pada wajah masyarakat manusia.

Source : Wachtower library 2011 edisi sedarlah tahun 1996

Tidak ada komentar:

Posting Komentar